Sega Jimat dan Santri Bela Negeri

Upacara Panjang Jimat Keraton Kasepuhan Cirebon | Foto: Kompas Travel

Sega jimat adalah salah satu makanan adat, kuliner etnik Cirebon- selain bubur sura di wadah takir pandan, apem kinca, empal gentong, docang, sega/nasi jamblang, lengko, dll. Menikmati pelbagai kuliner khas pesisir Cirebon yang dikecap ujung lidah pengecap perenungan sejarah ketika keterpurukan menjadi warna kalbu manusia Cirebon.

Kuliner etnik merupakan makanan rakyat. Makanan tradisional atau etnik memang berbeda dengan makanan adat. Makanan adat lebih kultural dan metafisis, dibuat hanya setahun sekali oleh para abdi dalem keraton “terutama di puncak peringatan maulid yang dikenal dengan panjang jimat.” Pembuatan dan penyajian makanan adat jenis ini berbeda dengan kuliner etnik. Makanan adat tidak semua orang bisa memasaknya. Pada “sega/nasi jimat” atau “nasi rasul” misalnya, karena bumbu dan teknik memasaknya dilakukan secara khusus, sehingga tak banyak dijiplak/ditiru, dimodifikasi masyarakat. Cara memasaknya pun berbeda dengan nasi jamblang dan lengko. Nasi jimat dimasak dengan minyak kelapa dan harus di atas pemanas tradisional di atas gedebog (batang) pisang yang menyerupai tungku yang dipanasi kayu bakar. Pada masa lalu, beras untuk dimasaknya pun merupakan pilihan dan tak boleh ada sebulir beras pun potong, patah, atau pecah, sehingga untuk mendapatkan beras semacam ini harus dilalui dengan cara menguliti gabah satu per satu. Konon hal tersebut dilakukan oleh para perawan sunti (perempuan yang memilih/berkomitmen sendiri tanpa pasangan). Sebelum sega jimat disuguhkan ke para abdi dalem, kerabat, dan dibagikan warga, seusai pawai panjang jimat dilakukan—sega jimat harus melalui proses ritual terlebih dahulu dengan pembacaan kitab Al-Barzanji. Ritual itulah sega jimat memiliki nilai yang sangat tinggi. Satu butir nasi sangat berharga (ketika itu). Tak seorang pun berani menjual nasi jimat dan tak ada warung makan yang menyediakan makanan bertuah itu. Seiring waktu, makanan adat itu akhirnya menjadi konsumsi wargi dan para santri.

Konon, sekira tahun 1818-1833 para santri memaknai: “mengunyah sega jimat: seperti sedang melihat desa akhirat.”

Bermula dari sini sega jimat dimaknai sebagai bentuk kesadaran sufistis yang mencahayai perlawanan para santri Cirebon dalam mengusir penjajahan. Dari sini juga cikal bakal patriotisme ulama dan santri bela Pertiwi. Dan dari sini pula senja selalu gelisah. Sega jimat paling tidak menjadi sebuah kearifan nalar yang bertawaf pada tahun 1818-1833. Mereka menyadari bahwa sejatining manusia itu menjatidiri menjadi ruang dealektika yang steril. Di dataran ini ada komunitas perbincangan baik bersifat horisontal ataupun vertikal yang terus-menerus diposisikan sebagai substansi humanisme. Manusia seperti halnya Sega jimat dihadirkan tak cuma sekadar fenomena supernatural yang jatuh dari surga, juga bisa jadi merupakan gejala kultural yang multidimensi. Manusia sega jimat 1818-1833 tak jauh dari deskripsi di atas. Bahkan saat dikaji lebih substansional, di dataran ini ada dialektika kultural yang kian sublimatif saat diposisikan dalam perspektif filsafat eksistensialisme. Seorang Hannah Arendt, misalnya memaknai eksistensi itu sebagai kemanunggalan mikrokosmos dan makrokosmos. Artinya, manusia bisa layak disebut manusia manakala bisa manjing ning sejroning kosmologi keserasian dan keselarasan antara makrokosmos dan mikrokosmos.

Di titik ini, jagat cilik (mikrokosmos) merupakan bagian dari jagat gede (makrokosmos). Hingga tak aneh bila Wong Jawa Umar Khayam, berpendapat bahwa manusia, tumbuh-tumbuhan, batu-batuan, sungai, gunung, para lelembut, roh adalah unsur jagat yang berada dalam hubungan keteraturan, keajegan dan keselarasan.

Maka benar pula kata Savitri Prastiti Scherer bahwa konsep manunggaling jagat gede dan jagat cilik itu merupakan tipikal orkestra gamelan Jawa, Martopangrawit menginterprestasikan Gusti sebagai pamurba adalah Rebab dan Gendang. Sementara kawula adalah Pamangku seperti Saron dan Gender. Di dataran ini kemanunggalan Pamangku dan Pamurba akan alirkan suara keserasian plus keselarasan. Implikasi dari keselarasan dan keserasian itu tentu saja melahirkan orkestra mengalun merdu yang membuat setiap telingga akan terpukau dan terlena mendengarnya.

Manusia yang kulturalis adalah manusia yang tumbuh dan berkembang dalam lanskap keselarasan dan keserasian. Mata air kinasih kerap terpancar dari intersubjektifitas sejatining manusia. Sebab manusia adalah mahkota kultural. Yang ajaib, mahkota kultural itu pada hakikatnya simbol kesunyian dan kesendirian. Manusia adalah bait-bait kiser yang terpuruk di sudut-sudut gelap. Di titik ini muncul kesadaran sekaligus solidaritas yang pelan-pelan menyemangati untuk terus membuat sega jimat. Itulah sebabnya garis linier antara manusia dan sega jimat dan pemberontakan Santri Cerbon 1818 tidak bersifat eksklusif, tapi bergerak dalam lingkar-lingkar antarmahkota kultural itu. Apa artinya? Sega jimat ajarkan kepada sejarah bahwa manusia pada mulanya hanya sekadar tetes nista. Kendati manusia tercipta, bermula dari saripati air yang hina namun keberadaan manusia sangatlah amat istimewa. Manusia adalah mahkota serta puncak alam semesta. Manusia adalah mahluk yang bertanggungjawab, yang dicipta dan mewarisi sifat-sifat ketuhanan salah satunya adalah sifat cintakasih dan kelemahlembutan. Manusia adalah penjelmaan zat mutlak yang paling penuh dan paling sempurna. Ide ini terus berkembang di pusaran pemikiran para santri Kedongdong, Majalengka, beberapa tahun jelang pemberontakan santri 1818.
Saling-silang unjuk nalar ini dalam kajian filsafat manusia sega jimat, 1818 – 1833 menjadi rujukan dalam memosisikan dan memaknai hakikat manusia. Di dataran pemikiran ini, kedudukan manusia ditempatkan pada dimensi relegius yang kokoh. Ia terposisikan pada kontruksi pusat periferial keajegan alam. Seperti sebuah samudra maha luas, manusia adalah penghubung antara Zat Mutlak dan segala penciptaanNya. Alam mikrokosmos yang mengungkapkan alam makrokosmos. Seperti halnya air menjadi penghubung antara ombak dan laut. Artinya lagi, sebagai pangkat terakhir penjelmaan Zat Mutlak, manusia bisa diposisikan sebagai titik balik bagi perjalanan kembali kepada Tuhannya. Secara potensial manusia adalah tempat pertemuan antara tanazzul dan taraqqi, atau tempat pertemuan pengaliran keluar dan pengaliran kembali*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *