Sawah Melayang di Blendang-blendung Smart City

“Peningkatan jumlah penduduk setiap tahunnya harus pula dibarengi dengan pembagunan sarana dan prasarana guna menunjang kehidupan kota dengan segala hiruk pikuknya. Di tengah maraknya pembangunan tersebut, tanpa disadari membuat Yogyakarta sedikit demi sedikit kehilangan jadi dirinya sebagai kota yang dulunya dikenal asri nan hijau.”

Percepatan pergerakan manusia kini tengah menjadi perbincangan seksi di tengah masyarakat. Pembahasan tentang kehidupan di masa mendatang yang menjadikan manusia semakin dinamis terus digiatkan. Diprediksi bahwa pada tahun 2050 penduduk bumi akan mencapai 10 milyar dan lebih dari 70% manusia akan tinggal di kota. Menurut BKKBN, Indonesia akan mandapatkan bonus demografi, yaitu jumlah usia angkatan kerja (15-64 tahun) mencapai sekitar 70 persen pada tahun 2010-2030. Munculnya generasi baru di populasi global menuntut manusia mencari penghidupan yang lebih baik, salah satu solusi paling mudah yang ditempuh adalah dengan cara mencari suaka di kota-kota.

Yogyakarta telah menjelma sebagai salah satu kota besar di Indonesia. Dengan unsur sejarah kuat serta kesenian yang sangat kental membuat Yogya didapuk sebagai kota budaya. Karena hal itu pula Yogya menjadi medan magnet yang menarik setiap orang untuk ke kota ini. Peningkatan jumlah penduduk setiap tahunnya harus pula dibarengi dengan pembagunan sarana dan prasarana guna menunjang kehidupan kota dengan segala hiruk pikuknya. Di tengah maraknya pembangunan tersebut, tanpa disadari membuat Yogyakarta sedikit demi sedikit kehilangan jadi dirinya sebagai kota yang dulunya dikenal asri nan hijau. Yogyakarta sekarang sedang asyik-asyiknya menanam beton sehingga petani secara perlahan tapi pasti mulai kehilangan lahan produktif yang menunjang kehidupan. Ruang hijau kini semakin terkikis dan terpojok, banyak sawah yang telah hilang tergantikan oleh bangunan.

Berangkat dari kegelisahan tersebut, Blendang-Blendung Art Studio terpanggil untuk bereaksi serta turut membincangkan kota dengan menyelenggarakan sebuah pameran karya seni lukis dan seni rupa instalasi bertema Smart City yang diselenggarakan di Taman Budaya Yogyakarta dari tanggal 17 sampai 23 April 2017.

Pengunjung pameran “Smart City” di Taman Budaya Yogyakarta, 18 April 2017. (Foto: Wiwit Nur Faizin | Hanacaraka)

Eko Prawoto dalam tulisannya yang berjudul Membincang Kota lewat Seni Rupa mendefinisikan bahwa pameran seni rupa adalah sebuah ruang dialog. Pemaparan pemikiran dari para seniman perupa ini dikomunikasikan lewat karya. Upaya dialog tersebut sangat dibutuhkan, paling tidak untuk membantu kita bersama dalam melihat secara lebih jeli dan jernih tentang kehidupan kota yang sedang kita tinggali. Seniman memang tidak pada ranahnya dalam memberikan solusi-solusi teknis seperti pemecahan arus macet pada jalan atau pengaturan sistem drainase agar tidak terjadi banjir saat hujan, namun lebih kepada upaya memberi kesadaran dan perspektif kepada diri kita sebagai manusia.

Lukisan serta instalasi dalam pameran ini merupakan karya dari seniman-seniman berpengalaman yang diundang secara khusus. Mereka adalah Made Toris Mahendra, Yayat Surya dan Sujianto. Karya lainnya berasal dari ISI Yogyakarta dan SMSR. Salah satu karya instalasi dalam pameran ini sebuah sawah yang dibuat melayang cukup merepresentasikan tema yang diusung dan diletakkan di tengah ruang pameran. “Dalam karya bersama ini menegaskan bahwa sawah merupakan komponen ekosistem dalam wujud biologis tentang apa yang disebut matte terra. Sawah tersebut diproyeksikan sebagai Elysium yang sesungguhnya,” ujar Yundi Pras selaku ketua panitia. Tanah fungsional yang dikelola untuk tanaman-tanaman pangan adalah tempat yang nyaman bagi setiap petani dalam upaya menemukan jati diri mereka. “Bentuk instalasi sawah ini sengaja dinaikkan; diangkat martabatnya pada tataran kesadaran bersama untuk simbolis mengangkat derajat petani,” imbuh Yundi lagi. Instalasi sawah ini juga menyiratkan Yogyakarta yang sudah kehilangan lahan hijau yang disebabkan oleh pembangunan kota yang gila-gilaan, hal ini kemudian dibalik dengan menanam padi di dalam gedung yang berada tepat di tengah kota sebagai bentuk sindiran terhadap kondisi kiwari.

Dua orang pengunjung serius memerhatikan salah satu karya seni rupa yang dipamerkan dalam “Smart City” di Taman Budaya Yogyakarta, 2017 (Foto: Wiwit Nur Faizin | Hanacaraka)

Ketua panitia Yundi Pra menyebutkan pada hari pertama pembukaan pameran, pengunjung didominasi para pelaku seni rupa, sedangkan pada hari-hari berikutnya didominasi oleh masyarakat umum. Pengunjung begitu antusias dan terlihat sangat khidmat menyaksikan pameran. Tidak sedikit pengunjung yang hadir ke pameran ini dengan tujuan mencari hiburan dan melakukan swafoto dengan latar belakang karya seni yang ditampilkan. Salah satu pengunjung A’at mengaku, “Saya merasa  senang bisa datang dan melihat pameran ini. Wawasan saya dalam bidang seni rupa semakin bertambah”.

Smart City merupakan kali ketiga diselenggarakannya pameran yang rutin digelar setiap satu tahun sekali oleh Blendang-blendung bersama Forum Mahasiswa Pecinta Pena (FMPP) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Mereka mengajak serta beberapa perupa muda maupun yang sudah berpengalaman. Sebelumnya pameran mereka mengangkat tema “Menjelajah Pemikiran Mangun Wijaya” yang diselenggarakan di Bentara Budaya Yogyakarta, sedangkan pameran kedua bertema “Asyikpelago (Perayaan Kebhinekaan)” yang diselenggarakan di Jakarta.

Di akhir wawancara, Yundi Pra berharap masyarakat bisa lebih peka terhadap isu-isu perkotaan melalui pameran ini.

________
Reporter: Wiwit Nur Faizin
Penyunting: Randi Triyudanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *