SANTET

Santet, dikenal sebagai upaya seseorang untuk mencelakai orang lain dari jarak jauh dengan menggunakan ilmu hitam atau sihir. Piranti yang biasa digunakan untuk menyantet diantaranya adalah rambut, kuku, boneka, foto, sesaji persembahan, paku. Ilmu santet menyebar di seluruh penjuru nusantara dengan nama daerah masing-masing.

Ada santet sendang cokro khas Cirebon yang menyerang alat vital perempuan. Di Melayu ada Teluh Darah Sewu, yang juga menyerang alat vital perempuan. Di Banyuwangi atau daerah Jawa Timur ada santet lowo ireng, santet osing, santet biriang dan santet susuk konde. Santet pelesit matimang dikenal di dayak. Di Jambi ada santet buhul cacing abin. Di daerah sunda santet juga sering disebut teuluh, di daerah lain ada juga yang mengenal dengan istilah tenung. Contoh lain santet adalah santet paku jiwo, santet kuyang, santet banaspati, santet bambu apus, santet buntu jodoh, santet jenglot atau betara karang, ada juga santet asihan yang lazim disebut pelet.

“Santet aja mblo kalau jodoh ga akan kemana, eh maksudnya santai saja mblo kaya bocah angon menggembalakan kejombloannya”

Mang Ompong seorang lelaki yang pernah berprofesi sebagai tukang becak di Jakarta dan penjual bakso di daerah Bantar Gebang, Bekasi menuturkan kalau dirinya pernah dikirimi guna-guna hanya karena ikut mendoakan juragan bakso yang ditengarai diguna-guna karena persaingan usaha hingga rumahtangganya berantakan. Mengetahui bosnya diguna-guna, Ompong akhirnya merasa kasihan namun ternyata justru dirinya juga terkena santet.

Santet itu ibarat virus di computer, yang lagi booming sekarang Ransomware WannaCry(pt), si virus bisa melumpuhkan system computer. Serangan santet kepada manusia juga sebetulnya melemahkan fungsi syaraf atau organ-organ tubuh manusia sehingga terjadi ketidak singkronan yang pada akhirnya menimbulkan sebuah penyakit. Para ninja dalam serial Naruto mengenalnya dengan istilah genjutsu, sebuah teknik ilusi memanipulasi aliran chakra di otak korban, sehingga menyebabkan gangguan pada indra mereka.

Mang Ompong, perutnya tiba-tiba membesar sebesar balon-balon yang dikirim pendukung Ahok ke balai kota Jakarta, di dekat pusarnya memerah sebesar lingkaran gelas dan menjadi koreng mengeluarkan belatung-belatung halus. Tiap hari belatung-belatung itu diambilnya dan dibakar lalu memercik seperti kembang api cap jago yang marak diperjualbelikan di bulan Ramadhan. Satu tahun Mang Ompong menderita karena penyakit yang dideritanya. Kejadian perut membesar itu terjadi saat dirinya sholat magrib berjamaah dengan keluarganya. Tiba-tiba daging betisnya naik ke paha dan kemaluan naik hilang lalu perutnya membesar.

Untuk mengobati penyakitnya Mang Ompong hanya makan cabe, bawang merah dan kecap selama satu tahun sebagai menu pokok. Untuk meningkatkan kepercayaan diri dan daya tahan tubuhnya dzikrullah tak putus terus memprogram otak. Persis pertanyaan facebook “Apa yang anda pikirkan?”. Lalu Mang Ompong menjawabnya dengan “Sesungguhnya tiada daya dan upaya kecuali dengan kehendak Allah.”. Dan pada akhirnya dipagi buta tiba-tiba tok… tok… tok… pintu rumah Mang Ompong diketuk.

“Assalamuallaikum” Salam dijawab lalu pintu dibuka dan seorang lelaki memeluk Mang Ompong sambil terisak.

“Wis mati pong… wonge wis mati… (Sudah mati pong, orangnya sudah mati)”

“Sapa sing mati? (Siapa yang mati?) tanya Mang Ompong

“Sapamaning nek dudu wong jahat kue, eh koen ora papa oya? (Siapa lagi kalau bukan orang jahat itu, eh kamu tidak kenapa-napa kan?)

“Alhamdulillah aku ora papa, sehat-sehat bae (Alhamdulillah aku tidak apa-apa, aku sehat walafiat) Jawab Mang Ompong sambil terkejut karena saat berangkulan tiba-tiba perutnya kempes sendiri meskipun masih meninggalkan bekas merah melingkar.

Itulah cerita pengalaman Mang Ompong dengan guna-guna atau santet. Penyakitnya sembuh pas saat sang adik juragan bakso menjenguknya. Sembari menutup pembicaraan Mang Ompong hanya berdoa semoga tidak terjadi lagi kepada anak keturunannya, keluarga karib kerabat dan teman-temannya.

Selain di masyarakat menengah ke bawah, santet juga tenar dikalangan politisi, artis dan lembaga pemerintahan. Contoh kasus, diantaranya adalah KPK seringkali menjadi sasaran santet, apabila sedang mencoba membongkar dan menyeret koruptor kelas kakap. Isu santet juga sering santer terdengar apabila terjadi perhelatan demokrasi mulai dari pemilihan Kepala Desa, Bupati, Gubernur, atau pemilihan wakil rakyat. Begitulah orang yang sudah menghalalkan segala cara, ujung-ujungnya adalah pencapaian harta, tahta dan wanita persis seperti yang dikisahkan dalam film Jumat Kliwon

Di tahun 1998 isu dukun santet juga sangat menggemparkan karena banyak orang yang dituduh dukun santet mati secara mengenaskan. Jawa Timur dan Banyuwangi khususnya adalah tempat dimana pembantaian itu terjadi dan konon dilakukan oleh para ninja tak dikenal. Apakah ninja-ninja itu adalah ninja-ninja didikan Konoha? Entahlah karena saat itu serial Naruto belum ada. Banyak analisa mengatakan bahwa itu adalah upaya dalam menciptakan keributan sebelum akhirnya Presiden Suharto lengser. Karena setelah dukun santet, para Kiyai juga didatangi para ninja. Seandainya waktu itu facebook sudah ada, mungkin tak kalah hebohnya dengan kondisi saat ini saling klaim di media sosial lalu kemudian hilang persis setan yang tidak bisa disentuh.

Penyidikan terhadap kasus pembantaian dukun santet tidak pernah diketahui rimbanya hingga sekarang. Meskipun sangat jelas terjadi indikasi pelanggaran HAM berat, seperti banyak kasus yang terjadi di Negara ini, hilangnya aktivis diantaranya adalah Widji Thukul, pembunuhan Marsinah, pembunuhan wartawan Udin, pembunuhan Munir, tragedi genocida 1965, peristiwa Tanjung Priuk, belum lagi yang terjadi di Poso dan Papua hingga Aceh. Kalau direnungkan apakah korban yang dibunuh dukun santet sebanyak korban yang dibunuh oleh atau atas nama kekuasaan? Apakah rakyat membayar kekuasaan untuk membunuh rakyatnya sendiri? Ah… setidaknya penyantet lebih bermartabat karena dia menggunakan uangnya sendiri untuk menyuruh sang dukun membunuh lawannya.

Lalu bagaimana hukum memandang dan memperlakukan santet? Dalam pasal 295 KUHP Buku II Bab V tentang Tindak Pidana terhadap Ketertiban Umum disebutkan :

“Setiap orang yang menyatakan dirinya mempunyai kekuatan gaib, memberitahukan, memberi harapan, menawarkan, atau menentukan bantuan jasa kepada orang lain bahwa karena perbuatannya dapat menimbulkan penyakit, kematian, penderitaan mental, atau fisik seseorang dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau dikenakan denda paling banyak Kategori IV”

Apakah pasal ini cukup efektif atau justru menjadi pasal karet yang bisa ditarik ulur demi sebuah kepentingan tertentu, seperti yang dikhawatirkan banyak orang adalah dijadikan alat untuk menggebuuug orang-orang yang berbeda pandangan politik ataupun ideologi. Untuk menjawabnya biarlah para praktisi hukum untuk dapat menggunakan pasal ini pada porsi dan tujuan sebenarnya.

Kenapa santet masih sering diperbincangkan? Orang-orang yang sudah mentok dengan sesuatu yang logis pada akhirnya akan mencari jalan pintas. Sadar atau tidak sebetulnya setiap hari kita bersinggungan dengan santet-santet yang lebih logis (baca polusi). Namun tekhnologi membungkus terror yang lebih membahayakan dari santet menjadi sesuatu yang modern. Ada yang lebih universal dan sistematis menghacurkan dan mengontrol kesehatan manusia modern, disadari atau tidak banyak penyakit bermunculan dan obatnya dimonopoli oleh industri tertentu saja.

Meskipun santet lahir di ranah tradisional namun sejatinya ilmu itu lahir untuk membela diri, ada pakem atau aturan-aturan tertentu. Untuk menangkalnya juga banyak media-media alami seperti contoh pohon pinang merah, bunga kemuning jawa, tebu wulung, pohon serut, jambu dersono, cocor bebek, pohon tanjung, bambu kuning, kelor, dan daun bidara. Meskipun awalnya untuk membela diri pada akhirnya bergulir diperjual belikan dan dapat mencelakai orang lain sesuai pesanan. Coba renungkan lebih jahat mana dengan polusi yang diakibatkan oleh industri, atau zat-zat berbahaya yang sengaja dimasukan lewat produk makanan? Orang yang mengirim santet juga harus dapat menerima resiko jika santet itu berbalik kepada dirinya, berbeda kan dengan para pemilik korporat yang justru dapat mengendalikan hukum dan kekuasaan?

Santet juga sering dijadikan modus para penipu pengobatan berkedok alternative, maka dari itu berbaik sangka terlebih dahulu jika diserang penyakit. Bisa jadi penyakit itu hadir karena pola hidup kita memang kurang memperhatikan kesehatan, sering stress atau terlalu sibuk bekerja hingga kurang beristirahat. Harus diakui ditengah hingar bingar dunia internet, dan informasi yang bergerak begitu cepat, keberadaan santet masih dan justru malah diiklankan sebagai upaya untuk menyelesaikan masalah yang justru menghadirkan masalah-masalah baru. Sebagai insan yang Pancasilais sudah selayaknya pintar memilah dan menelaah apapun yang terjadi pada diri kita. Jika memang dicurigai ada aura santet disekitar kita coba menghafalkan Pancasila dengan benar, siapa tau ditanya Bapak Presiden dan dikasih sepeda. Nah kalau sudah dapat sepeda, rajin-rajinlah bersepeda biar tetap sehat.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *