Rony: Preman Berhati Prilly

Cerita ini tentang Rony, seorang kawan semasa kecil yang sudah lama sekali tidak berjumpa. Rumah kami berdekatan dan kami seusia. Kami menghabiskan masa kecil bersama, baik saat berangkat sekolah, makan, bermain, mencuri mangga tetangga, dan seabrek aktifitas yang biasa dilakukan oleh anak-anak, kami lakukan bersama. Tak terhitung berapa kali kami berantem semasa kecil, tetapi selalu tak pernah berlama-lama, kami kembali akrab seolah tak ada masalah. Intensitas pertemanan antara saya dan Rony berkurang sangat signifikan saat saya memutuskan untuk bersekolah di luar daerah selepas lulus SD. Praktis sejak saat itu saya hanya berjumpa dengan Rony saat libur sekolah. Kami semakin jarang bertemu saat masing-masing lulus SMP, Rony memutuskan untuk bekerja di luar daerah dan saya bersekolah juga jauh dari rumah. Rumah kami pun kini tak lagi berdekatan, saya dan keluarga pindah rumah cukup jauh dari rumah awal.

Tempo hari saat saya sedang mengantar Emak ke pasar, saya bertemu dengan Rony. Sayangnya kami tak sempat mengobrol. Saya tiba di pasar saat Rony dan Emaknya hendak pulang karena telah selesai berbelanja. Hari itu Rony memakai celana pendek dan kaos ketat, dia seolah mau menunjukan ke semua orang badannya yang kekar. Jika saya tidak salah lihat, dia juga memakai anting dan ada tato di salah satu lengannya. Sebuah pemandangan yang cukup ganjil tersaji, seorang anak muda bertampang preman sedang mengantar Emaknya berbelanja di pasar.

Sore hari menjelang buka puasa sebuah pesan WA dari nomor asing masuk. Sebuah pesan yang teramat singkat, “Mas,,,”. Dari foto profilnya saya tahu itu Rony, saya tidak tahu dari mana dia memperleh nomor HP saya. Kami bertukar kabar, saling mengajukan pertanyaan, dan menjawabnya secara bergantian. Dari sana saya tahu, bahwa Rony belum lama pulang dari Palu, dia bekerja berpindah-pindah dari satu kota ke kota yang lain. Selama bulan Ramadhan ini dia memutuskan untuk menetap di rumah, menikmati puasa bersama keluarga tercinta dan baru kembali bekerja setelah lebaran. Sebuah kemewahan yang tak bisa saya rasakan.

Pada kesempatan itu saya tak lupa bertanya mengapa Rony yang “seorang Preman” bersedia mengantar Emaknya belanja di pasar. Dan ini jawaban Rony untuk pertanyaan saya, “Hahaha… Iyo, wajah Preman tapi hati Prillly!!! Hahahaha”. Rony bercerita bahwa saat berada jauh dari rumah dia memang seorang preman, Rony tak segan menghajar seseorang yang dia anggap menjengkelkan, berkata kasar, dan sebagainya. Tapi saat di rumah dia akan berevolusi menjadi seorang anak yang baik dan penurut, terutama kepada Emaknya. Bagi Rony, kebahagiaan Emaknya adalah sesuatu yang selama ini dia perjuangkan. Dia akan melakukan apapun untuk membuat Emaknya bahagia. Wah, koncoku jan siiip tenan….

Tiba-tiba saya teringat dengan sebuah kisah yang sayang dengar sendiri dari salah seorang teman saya di organisasi mahasiswa. Dia bercerita kepada saya bahwa dia baru saja berseteru dengan Ibunya saat di rumah. Pangkal masalahnya adalah ketika Sang Ibu memintanya ke masjid untuk berjamaah Isya’ dan Shalat Tarawih. Tapi teman saya yang seorang mahasiswa dan aktivis tersebut menolak sembari menjelaskan bahwa dia akan shalat Isya sendiri di rumah, dia juga menjelaskan kepada Ibunya bahwa sholat taraweh itu hanya ibadah sunah yang berarti mengerjakannya bukanlah sebuah keharusan. Tak hanya itu, teman saya juga memberitahu Ibunya bahwa ibadah sosial lebih penting ketimbang ibadah individu.

Baik Rony maupun teman saya yang seorang aktivis tersebut sama-sama bangga dengan apa yang telah mereka perbuat. Rony bangga karena telah bisa mengantar ibunya ke pasar, dan teman saya yang satunya bangga karena telah merasa berhasil “mengedukasi” Ibunya tentang konsepsi ibadah.

Lantas apa pesan yang ingin saya sampaikan lewat tulisan ini? Pesannya adalah, jangan lupa perbanyak minum air putih saat sahur. Dan jangan lupa cium tangan Emak saat lebaran nanti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *