Memaknai Bineka dalam Pentas Tetabuhan Nusaraya

Pameran Alat Musik Tradisi Nusantara kembali hadir di tahun 2017. Setelah tahun lalu digelar di Semarang, Jawa Tengah, tahun ini pameran diselenggarakan di Yogyakarta. Pameran ini diikuti oleh 31 museum dan menampilkan lebih dari 200 alat musik tradisional dari seluruh Indonesia. Acara ini berlangsung pada 26 April – 5 Mei 2017 di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta. Pameran yang digagas Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Yogyakarta ini merupakan kerjasama antara Museum Sonobudoyo dengan komunitas Malam Museum.

Tak hanya memamerkan alat musik saja, dalam pameran ini juga menampilkan berbagai acara pendukung, di antaranya pentas alat musik, program Museum Masuk Sekolah, workshop, seminar nasional, currator class, pemutaran film, dan penampilan berbagai kesenian daerah. Selain pentas alat musik, panitia pun menyelenggarakan diskusi budaya selama sembilan malam yang dimulai sejak 27 April – 5 Mei 2017 di Halaman Museum Sonobudoyo. Di sini pengunjung bisa mencoba memainkan alat musik tradisional yang ditampilkan.

Pameran Alat Musik Tradisi Nusantara 2017 mengusung tema “Tetabuhan Nusaraya: Sounding the Diverse Collectivities”. Pendiri Malam Museum Erwin Djunaedi mengatakan, tujuan pameran ini adalah untuk mengenal, mempererat persatuan dan bersama melestarikan kekayaan Indonesia. “Indonesia memiliki kekayaan yang luar biasa dalam banyak hal, tak terkecuali alat musik. Saat seseorang memainkan alat musik harapannya sekaligus punya rasa memiliki dan memiliki rasa persatuan bahwa kita orang Indonesia.” Lebih lanjut Erwin mengatakan, “Apapun alat musik yang dimainkan, kecapi, rebana, gamelan, suling dan sebagainya, kita mainkan bersama karena kita Indonesia. Kita berbeda seperti alat musik, tetapi ketika dibunyikan menghasilkan suara yang luar biasa nyaring. Itulah Indonesia.”

Dari 34 propinsi di Indonesia, hanya 14 propinsi yang mengikuti Pentas Alat Musik Tradisi Nusantara 2017, yaitu Jawa Tengah, Aceh, Gayo, Sumatera Barat, Bali, Maluku, Maluku Utara, Kalimantan, Melayu, Jawa Barat, Bugis, Makassar, Kupang dan Flores NTT. Panitia mengelompokkan alat musik yang ditampilkan berdasarkan propinsi. Misalnya, Aceh hanya berdiri sendiri dan tidak bisa digabung dengan kesenian lain. Sedangkan Melayu mencakup Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Jambi. Melayu ini tidak mewakili propinsi tetapi mewakili kesenian Melayu itu sendiri.

Malam pertama Pentas Alat Musik Tradisio Nusantara 2017 menampilkan alat musik dari Jawa Tengah dan Aceh. Jawa Tengah menampilkan alat musik bundengan dengan tari lengger, sedangkan Aceh menampilkan rapai geleng. Bundengan merupakan alat musik tradisional khas Wonosobo, Jawa Tengah. Terbuat dari kelopak ruas bambu yang diberi senar dan bilah bambu. Bentuknya pun cukup aneh, tak seperti alat musik pada umumnya, tetapi dari kejauhan terlihat seperti tempat sampah yang di masyarakat Jawa disebut ekrak.

Seniman Wonosobo Hengky Krisnawan berbagi cerita tentang alat musik yang asalnya bernama kowangan, payung zaman kuno. Semenjak dijadikan alat musik, namanya diubah menjadi bundengan. Alat musik tradisional ini sudah ada sejak era Majapahit, setelah Mataram Hindu Kuno dan ada dalam kitab Wertasancaya.

“Alat musik ini dibuat oleh rakyat jelata. Zaman dahulu rakyat jelata dilarang memiliki alat musik yang dimiliki kerajaan seperti gong, gamelan dan gendhing. Dalam kitab Negara Kertagama tertulis bahwa gendhing dan gong hanya dimainkan oleh para bangsawan-bangsawan Majapahit dan rakyat jelata hanya menyaksikan dari jauh. Dari situlah akhirnya bisa diketahui bunyi gendang, gong dan gendhing, dari alat musik kowangan atau bundengan ini,” kisah Hengky.

Bundengan tergolong alat musik unik karena mampu menghasilkan beragam suara yang mirip dengan beberapa gamelan. Selain itu, alat musik ini berbeda dengan alat musik lainnya. Jika alat musik lain harus dihindarkan dari air, bundengan justru tahan air dan bunyinya akan semakin nyaring jika disiram air. Meskipun menghasilkan suara gamelan, cara memainkannya bukan ditabuh tetapi dipetik mirip seperti gitar atau rebab.

Hengky menambahkan, masyarakat Wonosobo selalu berusaha untuk memperkenalkan dan melestarikan alat musik bundengan agar tidak hanya dikenal di Wonosobo saja, tetapi juga dapat dikenal secara nasional bahkan hingga internasional. “Agar bundengan bisa lebih eksis, kita harus terus melestarikannya melalui regenerasi-regenerasi dari sekolah-sekolah SD, SMP dan SMA dengan cara memberikan workshop.”

Lain Jawa Tengah, lain pula Aceh yang mengenalkan rapai geleng. Rapai geleng dikembangkan oleh seorang anonim yang berasal dari Aceh selatan. Tarian ini berfungsi sebagai syiar agama, menanamkan nilai moral kepada masyarakat dan menjelaskan kehidupan sosial masyarakat. Tarian ini dimainkan oleh laki-laki berjumlah 8 orang dan 1 orang lagi bertugas sebagai penyair yang menyanyikan kalimat-kalimat dakwah.

Nama ‘rapai’ diadopsi dari nama Syeikh Ripai, orang pertama yang mengembangkan alat musik rebana ini. Annas, pemain rapai geleng menjelaskan bahwa ada beberapa jenis rapai. “Terdapat beberapa jenis rapai, yaitu rapai fase; yaitu rapai besar yang tabuhan-tabuhannya digunakan sebelum perang. Kalau yang tadi kami gunakan itu rapai kecil yang digunakan untuk menari.”

Annas dan penari rapai geleng berharap, alat musik dan tarian tradisi Aceh dapat terus dikembangkan dan tidak dilupakan oleh generasi muda. “Sebagai anak muda kita harus memiliki kemampuan, kita asah terus kemampuan kita dalam bermain rapai. Begitu pun jika kita masuk sanggar, kita ajarkan adik-adik melestarikan alat musik tradisi kita,” tutup Anas.


Reporter: Susy Susanti
Penyunting: Randi Triyduanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *