Mencari Tuhan di Tubuh Wanita

Setiap bulan April, rasanya seperti menyelami hari-hari feminis. Khususnya di Indonesia, setiap April selalu penuh dengan wacana, acara, dan obrolan tentang wanita. Meskipun tidak semua berjalan penuh suka cita. Masih terjadi pro kontra antara konsep emansipasi dan tradisi patriarki yang masih mengakar kuat di bumi Nusantara. Apalagi wanita menurut bahasa jawa bisa dijabarkan sebagai “wani ditata” (berani diataur dan mau mengatur). Dalam perjalanan gerakan feminis masih terjadi berbagai kasus amoral terhadap wanita. Membahas wanita dan persoalannya memang tidak ada habisnya.

Wanita dengan segala pesona yang dikenal dengan erotis (bersifat merangsang nafsu birahi), nampaknya menjadi masalah terbesar yang melatarbelakangi semua pembahasan tersebut. Pasalnya, R.A. Kartini bercita-cita menaikkan derajat wanita agar tidak dipandang sebagai objek semata, melainkan subjek atas masalah-masalah yang dihadapi bangsa. Lewat pendidikan yang layak, maupun peran sosial yang vital. Sementara itu, wanita dan sisi erotisnya justru menjadi pisau bermata dua. Ketika kecantikan fisik lebih berpotensi menaikkan derajat daripada kecantikan budi pekerti. Lihatlah iklan di televisi, alih-alih mencari profesi yang layak, justru kebanyakan selebriti malah mendedikasikan diri sebagai objek percobaan mode dan kosmetik. Ehm… bicara soal mode, secara boneka-boneka alat bantu dari Jepang juga dibuat semenarik mungkin, masak sih wanita rela membiarkan pasangannya lebih memilih boneka daripada dirinya?

Tuhan Yang Feminis
Karen Amstrong dalam buku Sejarah Tuhan memaparkan bahwa dari masa ke masa, manusia mencoba mengenal Tuhan dengan cara dan bentuk yang berbeda. Pada periode prasejarah, Tuhan dikenal melalui murkanya. Badai, petir, tsunami, juga wabah penyakit sehingga muncul nama Dewa-Dewi hampir di seluruh dunia. Dalam masyarakat jawa sendiri, teologi “kapitayan”, memperkenalkan Tuhan melalui gunung, pohon besar, hingga batu. Namun pada periode yang sama, Tuhan juga dikenal melalui figur wanita. Patung Venus Of Willendorf di eropa misalnya, representasi sosok Dewi kesuburan yang menjelaskan Tuhan lewat fungsi reproduksi wanita. Karena Tuhan lah awal mula semesta, sebagaimana awal kelahiran manusia dari rahim ibunya.

Tuhan Yang Hilang
Erotika dan religiusitas, juga bergeser bersama perkembangan budaya. Wanita yang secara alami dibekali fungsi reproduksi, kini tidak dianggap sebagai sumber kehidupan utama lagi. Peran perangkat medis telah menggantikan peran wanita lewat konsep bayi tabungnya. Sehingga pudarlah kebesaran Tuhan disana, mencair dalam ikhtiar pola pikir manusia itu sendiri, sebagai produk ciptaan Tuhan. Sementara di sisi lain, nilai estetis pada erotika wanita tetap tidak tergantikan. Melebur bersama produk industri bernama piring cantik, gelas cantik, dan segala kecantikan lain yang seakan produk industri adalah bagian dari identitas kewanitaan itu sendiri. Jika tidak pakai produk tersebut, maka kurang layak lah sebagai wanita.

“Dipilih, dipilih.. harga diskon, harga diskon, murmer kok lingerie-nya dijamin pujaan hati betah di rumah.”
Sayup-sayup dari bumi yang dihamparkan tak mau kalah saing. “Ya, ukhti.. Ayo murah-murah, dipakai hijabnya, berharap ridho-Nya, semoga surga tempat kembalinya, jangan digratisin pahanya ya, ukhti.. masa kalah sama ayam goreng kremes, yang dihijabi lebih nggemesin loh…”

Wanita dan religiusitas kini semakin jauh. Tuhan tidak lagi dikenal lewat kesuburan, kasih sayang, maupun keindahan yang dimiliki wanita. Tidak juga lewat kekuatan, kebijaksanaan laki-laki. Kitab suci sepertinya telah sempurna memperkenalkan Tuhan dengan teks nyaris tanpa gambar.

Tuhan Dalam Simbol
Setelah sekian lama teks begitu lekat dengan manusia, terbukti teks adalah sarana komunikasi terbaik yang pernah ada. Bahkan cara Tuhan berkomunikasi pada manusia pun melalui teks (kitab suci). Hanya saja, perlu diingat lagi bahwa teks pada mulanya adalah simbol. Mulai dari gambar foto, aksara kuno, hingga menjadi teks yang sekarang digunakan. Maka tidak heran, jika ada perbedaan pendapat mengenai Tuhan padahal membaca teks yang sama.

Begitu juga nilai feminis yang bertransformasi menjadi garis lengkung, warna pink, renda, font lentik, hingga musik, semuanya adalah simbol sebagaimana teks. Karya seni dewasa ini pun lebih cenderung tampil lentik daripada tegas, lebih mementingkan keindahan daripada kegagahan, lebih memilih vulgar daripada sopan. Semuanya tampak feminis. Hal ini tentunya memiliki dampak besar pada proses nalar manusia dalam religiusitas yang seakan melupakan wanita namun menelan asupan simbol erotika setiap harinya.

Dalam laku religi, manusia yang dibimbing kode erotik tersebut lebih mementingkan sensasi. Berbeda dengan umat terdahulu yang sangat takut terhadap Tuhan. Maka yang terjadi, atas nama kitab suci, berlomba mempercantik diri. Atas nama teks, berlomba menguasai bumi. Karena hari ini, Tuhan dikenal sebagai induk dari sensasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *