Jatuh Cinta pada Senja

Ada banyak anak manusia yang mencintai senja atau sekadar mengagumi keindahannya. Senja di bulan Ramadan tentu lebih indah lagi. Tanya kenapa? Musim kemarau membuat cakrawala menghadirkan polesan-polesan jingga nan artistik. Warna-warni langit begitu kontras dengan warna-warni aneka hidangan untuk berbuka. Jikalaupun musim hujan, senja selalu terasa mistis berderai rintik kenangan.

Begitu banyak warna saat senja di bulan Ramadan. Warna kolak, warna bubur candil, warna es buah, warna kue-kue, belum lagi warna-warna sirup nan menggoda. Coba bayangkan warna senja dan segala warna hidangan menu berbuka itu menyatu dalam senyum bibir merah khatulistiwa. Dan bibir-bibir khatulistiwa itu terbentang dari Sabang sampai Merauke. Bibir yang konon selalu tersunting keramahan Negeri Timur yang eksotis.

Cah Angon jadi inget, Presiden Jancukers juga suka banget kalau followers-nya mengirimkan foto saat senja dari segala penjuru mata angin. Merasa ada yang mewakili bahwa senja memang layak dicintai. Bedalah kalau yang menebar cinta itu Presiden Jancukers dengan ribuan followers-nya. Apalah Cah Angon ini, memanjat pohon belimbing saja jatuh terus karena licinnya, bagaimana bisa menggapai indahnya senja di mayapada.

Mencintai senja, tentulah belajar memahami warna merah dengan segala gradasinya. Cah Angon jadi ingat paparan Sinar Hindia, 1 Mei 1918 dalam sebuah buku terbitan Ultimus yang judul bukunya tidak boleh disebutkan. Nah daripada nanti ditanya-tanya pak Polisi atau pak TNI atau pak Ormas yang kepo banget tentang judul buku terbitan Ultimus ini, baiklah judul bukunya adalah Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI (1920 – 1965). Buku-buku model begini menjadi alasan sebuah kampus di Bandung menskorsing beberapa mahasiswanya, mungkin pak Rektor perlu mencintai senja lebih dalam, atau membaca Sinar Hindia berikut:

“Sinar Hindia, itu tjahaja merah memang betul. Sinarnja Api jang akan menerangi tempat jang gelap seluruh Hindia. Sinar Hindia kita persediaan buat rakjat Hindia guna berperang dengan pena bermusuhan dengan kaum2 jang djadi musuhnja rakjat Hindia, jaitu kaum wang (kapitalisten) begitu djahat berlaku se-wenang2 atas rakjat Hindia dan tenaga kita. Sinar Hindia kita persediaan buat “strijd organ”.

Warna merah itu warnanja pergerakan rakjat di antara dunia, jang dapat nama diantara dunia “social-democratie”. Hindia sekarang, Hindia budak. Timbul maksud2 guna merebut kembali hak2 kita, jaitu kemerdekaannja Hindia, atau vrijheid dan onafhankelijkheid. “Een onafhankelijk en Socialistisch Indie” (Hindia merdeka merintah negerinja sendiri dan merdeka samarata buat rakjatnja dalam pentjarian penghidupan). Mengedjar maksud ini bukan mainan. Perkara jang besar ini mesti direbut oleh antero anak Hindia ber-sama2.

… Dalam abad 19 berdiri Arbeider Associatie, tetapi tahun 1918 negeri Rusland sudah mendjadi suatu Socialistisch Republiek jang amat amat kuat. Sebagai peringatan 1 Mei, Sinar Hindia tertjetak merah. Merah bendera kita, merahlah ini hari buat Sinar Hindia….”

Bibir merah dan warna jingga saat senja, Cah Angon tertegun memikirkan dawet ayu Banjarnegara. Merah gula jawa, putih santan kelapa dan hijau bulir-bulir dawet. Seolah nyata persatuan kalangan merah marxist, sosialis, nasionalis, kaum golongan putih dan hijaunya para penyeru Islam Nusantara. Persatuan untuk merayakan kemenangan setelah berperang melawan hawa nafsu dan mewujudkan kemerdekaan yang utuh dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

NKRI harga untuk semua kalangan dan semua golongan tentunya. Jika, “Saya Indonesia, Saya Pancasila” tentulah tidak ada tempat untuk kaum fasis nan intoleran. Sudahkah Pancasila menyatukan semua golongan?

Cah Angon ngomong apa sih sebetulnya, sok iyes banget. Konon membaca sejarah itu cara termurah untuk melawan pikun. Minggu-minggu kok membuka lembaran masa lalu Sinar Hindia!? Daripada membuka lembaran kenangan bersama Raisa. Cah Angon insya Allah sudah ikhlas melepasnya ke tangan Hamish Dawet, eh Daud. Bikin gagal fokus dan merusak suasana untuk berbuka puasa saja.

Kembali ke dawet ayu, di Jogjakarta ada penjual dawet ayu berdjedjer dibawah pohon besar tepatnya di Jalan Kusbini Pengok, Gondokusuman, atau sebelah utara Bengkel Kereta Api Daop IV Jogjakarta. Sambil menikmati senja di Stasiun Lempuyangan melipir untuk membeli dawet tak ada ruginya. Atau semisal dalam perjalanan, berhenti sejenak jika bertemu penjual dawet saat senja hari. Membeli dawet ayu dan menikmati senja adalah ritual yang layak dicoba di bulan Ramadan.

Ingatlah, senja itu datangnya hanya sekejap. Simpan merahnya untuk malam gulita. Ingat jingga, merahnya senja, merahnya bibirmu, taruhlah di langit gulita hidupmu. Panjatlah pohon belimbing itu untuk naik ke puncak langit gulita hatimu.

Cah Angon, Cah Angon… penekno blimbing kuwi! Selamat berbuka di hari kedua bulan puasa. Kebanyakan makan dan kekenyangan bukan tanggung jawab Cah Angon. Jika berlebih sisakan untuk mereka yang membutuhkan, ingat samarasa baiknya tak hanya dibulan puasa.

#SelamatMenjemputSenja!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *