Mempertanyakan Sosok Kartini?

Pemilihan Raden Ajeng Kartini sebagai tokoh pejuang emansipasi perempuan sekaligus juga Pahlawan Nasional, dan hari lahirnya (21 April 1879) ditetapkan sebagai Hari Besar Nasional masih menuai banyak pro dan kontra sampai hari ini. Pertanyaan yang terus dilontarkan oleh mereka yang kontra terhadap penetapan Kartini sebagai Pahlawan Nasional adalah “Mengapa harus Kartini?” Pasalnya, Kartini bukanlah satu-satunya perempuan yang hidup pada masa penjajahan dan memiliki peran revolusioner bagi bangsa Indonesia.

Jika tradisi menulis yang dianggap menjadi titik pembeda antara Kartini dengan para perempuan lainnya, maka argumen tersebut bisa dengan mudah dipatahkan. Kartini bukanlah satu-satunya perempuan di masa penjajahan yang meninggalkan jejak pemikirannya dalam bentuk tulisan. Ada Rohana Kudus berasal dari Sumatra barat yang aktif menulis dan bahkan tercatat sebagai jurnalis perempuan pertama di Indonesia. Perkara hanya karya Kartini yang dipublikasikan dan bisa kita akses sampai hari ini, menjadi bagian yang juga perlu kita pertanyakan. Adalah J.H. Abendanon, seorang Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan,pada masa Hindia-Belanda, pada tahun 1911 yang menerbitkan karya Kartini tersebut.

Meroketnya nama Kartini dibandingkan tokoh-tokoh perempuan lainnya tentu tidak bisa dilepaskan dari buku yang berjudul Door Duisternis tot Licht. Buku tersebut memuat surat-surat yang dikirim Kartini kepada para sahabatnya di Eropa. Telaah terhadap surat-surat Kartini tersebut telah menghasilkan sebuah kesimpulan yang pantas untuk diperdebatkan. Kartini dianggap sebagai perempuan yang berpikiran (paling) maju dan kritis dibandingkan para perempuan lain di masanya.

Sebenarnya ada nama Rangkayo Rasuna Said, yang harus rela dipenjara oleh penjajah Belanda lantaran memprotes ketidakadilan yang dilakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda kala itu. Sebagaimana Kartini, Rangkayo Rasuna Said juga menyadari bahwa terdapat ketimpangan hak antara perempuan dan laki-laki. Perempuan yang pernah duduk sebagai anggota DPR-RIS ini juga getol menyuarakan kesetaraan hak antara perempuan dan laki-laki.

Perempuan lain yang dianggap pemikirannya tak kalah maju jika dibandingkan dengan Kartini adalah Dewi Sartika. Dalam hal memperjuangkan hak-hak perempuan, Dewi Sartika yang lahir lima tahun setelah kelahiran Kartini (1884) bisa dianggap lebih unggul. Dewi Sartika tak hanya sekadar mendiseminasi wacana terkait kesetaraan hak perempuan, tapi juga melakukan aksi nyata dengan mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri. Masih ada banyak nama-nama perempuan luar biasanya lainnya di luar dua nama tersebut. Sebut saja Cut Nyak Dien, Malahayati, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, Tengku Fakinah. Cut Nyak Dien dan Tengku Fakinah bahkan turut memimpin peperangan melawan penjajahan Belanda.

Tulisan ini bukanlah sebuah upaya mengerdilkan sosok Kartini, dia tetaplah sosok yang inspiratif dan luar biasa. Kartini pantas menyandang gelar Pahlawan Nasional, hanya saja pengkultusan berlebihan terhadap sosok Kartini sebagai tokoh yang seolah-seolah menjadi satu-satunya perempuan revolusioner yang lahir di masa penjajahan tidaklah tepat. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut . Sejarah perlu disampaikan dengan lebih jujur dan seimbang untuk masa depan bangsa Indonesia yang lebih baik.

Menampar Kartini dalam Perayaan Hari Kartini
Sebuah ironi tersaji pada perayaan-perayaan yang diadakan dalam rangka memeriahkan Hari Kartini. Bagaimana bisa, Kartini yang dikenal lantaran memperjuangkan emansipasi perempuan justru hari lahirnya dirayakan dengan semangat domestifikasi peran perempuan. Sebagian besar tempat pendidikan formal sampai instansi Negara, perempuan berlomba-lomba menjadi Kartini, namun kartini secara pakaian; Konde, Jarik dan Kebaya. Hal tersebut jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip yang diperjuangkan oleh Kartini.

Padahal, Kartini menolak konstruk sosial yang menempatkan perempuan sebagai objek seksual yang perannya hanya berkutat pada “dapur, kasur, dan sumur”, sebuah konstruk sosial feodalistik yang ditentang keras oleh Kartini. Kartini mengidamkan masyarakat yang menempatkan perempuan secara setara dalam hak-hak sosial, politik, dan terutama dalam rumah tangga.

Memperingati Hari Kartini dengan perlombaan kontes kecantikan berbusana kebaya dan memasak adalah tamparan keras bagi Kartini. Perlombaan semacam ini menghendaki para perempuan untuk tampil cantik dan menarik, serta memiliki kualifikasi bisa memasak agar masuk dalam kategori perempuan dan istri “ideal”.

Kekurangan Ide dalam Perayaan Hari Kartini.
Semestinya, perayaan Hari Kartini menjadi ajang unjuk kebolehan dan potensi yang dimiliki perempuan bahwa mereka memiliki kualitas kepribadian dan intelektualitas yang setara atau bahkan lebih unggul daripada laki-laki. Perayaan Hari Kartini harusnya menjadi momentum bagi perempuan dan laki-laki untuk Berdiri sama tinggi duduk sama rendah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *