Persekusi Lailatul Qadar

Ramadan, identik dengan persekusi pahala. Seperti tahun dan bulan suci sebelumnya. Para pemburu pahala mendatangi masjid atau musala untuk melakukan itikaf dan qiyamullail. Bisa berjamaah atau perorangan. Yang mengesankan di sepuluh malam terakhir Ramadan, ramai orang bersungguh-sungguh beritikaf. Menargetkan diri agar dalam sepuluh malam terakhir ramadan bisa khatam 30 juz Al Quran.

Menarik. Di saat kebanyakan orang memilih menyibukkan diri, berebut segala macam yang eksternal, justru para pemburu pahala malah asyik tafakur berdiam diri di tempat ibadah. Tentu sudah menjadi rahasia umum-semakin mendekati lebaran, shaf tarawih makin maju kedepan, sekadar untuk memenuhi keperluan lebaran. Tetapi bagi para pencari pahala, justru shaf-shaf qiyamullail makin mundur ke belakang. Apalagi pada malam-malam ganjil yang salah satu atau salah duanya diyakini merupakan Lailatul Qodar, malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Bayangkan, 1000 purnama! Bahkan, penantian Cinta atas Rangga yang sekadar ratusan purnama pun tidak ada artinya apa-apa. Para pencari pahala memburunya sebagaimana dicontohkan Rasulullah s.a.w.

Kefasihan bacaan dan kedalaman penghayatan terhadap ayat-ayat yang dibaca, tentu merupakan salah satu tantangannya. Seringkali terdengar isak tangis seseorang ketika seseorang membaca, mengkaji sekaligus memahami dengan penuh seluruh makna ayat-ayat yang berbicara tentang keluasan rahmat Allah SWT dibaca dengan penuh seluruh. Seketika bergelora jiwanya. Harapan, kerinduan berkecamuk untuk meraih dan menjadi juara. Sebaliknya, ketika membaca ayat-ayat azab, tubuh mereka berguncang serupa bangunan tua yang bergetar ketakutan penuh gejolak dan sarat makna. Takut akan neraka, hanya menginginkan surga plus bidadarinya.

Selain itikaf, qiyamullail, dan pembacaan ayat-ayat-Nya-yang lebih urgent adalah menyoal materi keislaman seperti tafsir, hadis, fikih, sirah (perjalanan hidup) dan sejumlah materi lainnya yang merujuk langsung kepada sumber aslinya. Karena tidak sedikit para pencari pahala enggan dan membosankan dengan hal itu.

Lalu apakah yang boleh lelaku persekusi pahala itu kaum pria saja? Perempuan pun dipersilakan. Tua-muda, bahkan yang sambil bawa balita juga mangga saja. Kenapa? Ihwal kaum hawa melakukan itikaf bukanlah karangan kuota belaka dan mengada-ada. Ketika Rasulullah s.a.w.  melakukan itikaf, istri-istri beliau pun melakukan hal serupa. Bahkan setelah beliau meninggal dunia pun, para ummahatul mukminin itu tetap meneruskannya.

Laki-perempuan para pencari pahala, adakah yang mengetahui kapan lailatul qadar t. iba? Tak seorangpun tahu dan tetap menarik dan menjadi suatu ketetapan ganjil berselimut misteri. Allah SWT menjadikannya sebagai suatu rahasia, sehingga manusia harus berjuang lebih keras untuk bisa meraihnya. Sejumlah ulama mengatakan: Lailatul Qodar terjadi pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, di malam-malam tak genap—malam 21-23-25-27 dan 29.

“Lailatul Qodar terdapat di sepuluh malam yang tersisa. Siapa yang mendirikan malam-malamnya demi mencari dan menunggu kedatangannya, maka sesungguhnya Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan setelahnya. Itulah malam-malam yang hitungannya ganjil: sembilan, tujuh, lima, tiga, atau bahkan di hari terakhir.” (HR. Ahmad).

Dalam hadis yang lain, Rasulullah s.a.w. bahkan menyebut sebagian tanda-tanda alam ketika Lailatul Qodar itu tiba. “Sesungguhnya tanda-tanda datangnya Lailatul Qadar itu langit sangat cerah seolah-olah ada sekelompok besar bulan datar, tenang, dan indah. Suhu udara pada malam itu tidak panas dan juga tidak dingin. Allah SWT tidak menghalalkan planet-planet dijatuhkan pada malam itu, sampai datang pagi hari. Tanda-tanda lainnya, matahari pada pagi harinya terlihat sangat cerah, tidak bersinar seperti sinar bulan ketika terjadi perang Badar. Dan tidak dihalalkan bagi setan untuk keluar bersama malam itu.” (Fathul Baari/IV/329 dan 318).

Namun demikian, kedatangan lailatul qadar yang sesungguhnya tetaplah rahasia. Merupakan hal gaib yang hanya diketahui Allah SWT. Karenanya untuk persekusi lailatul qadar, bukan segalanya. Motivasi ibadah sesungguhnya hanya pengabdian dan tanggungjawab kepada Allah SWT. Lailatul qadar adalah sebuah “fasilitas” yang dahsyat, yang dianugerahkan Allah bagi umat Muhammad agar beribadah sebaik-baiknya dan mendapatkan hasil persekusi pahala sebanyak-banyaknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *