Misteri Kujang

Seperti yang diutarakan oleh K.H. Muhammad Sholikhin dalam bukunya Musuh Sampai Kiamat, tentang magnetisme di halaman 191.

“Magnetisme memiliki berbagai arti; kekuatan besi berani, kekuatan yang tersembunyi atau ghaib. Magnetisme berbeda dengan sihir. Dalam dunia neurologi dikenal bahwa setiap simpul saraf dan urat manusia menyimpan potensi-potensi daya magnetisme yang menyebabkan manusia itu mampu hidup dan sehat dan sebagainya. Dari potensi-potensi kekuatan inilah maka manusia bisa memiliki daya-daya penyembuhan, pertahanan dan lain-lain.”

Besi adalah salah satu material yang dapat memiliki sifat magnet, dalam tabel periodik unsur kimia besi dikenal sebagai Fe (Ferrum). Besi juga menjadi salah satu surat di dalam Al Quran, yaitu Al Hadiid yang berarti besi. “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa” (Al Quran, 57:25) 

Sampurasun… Untuk mengenal kujang, sebagai seseorang yang di dalam darah saya mengalir darah galuh, saya membutuhkan waktu yang cukup lama. Barulah di usia ke-33 tahun dari kelahiran saya, saya dipercaya merawat sebilah kujang. Meskipun setelah saya mencari tahu arti filosofi kujang, ternyata saya masih jauh dari pantas memegang kujang. Meskipun oleh beberapa golongan, wesi aji dipandang sebagai benda yang berpotensi menjerumuskan seseorang kepada prilaku kemusyrikan, saya berpendapat uang lebih menjanjikan dibandingkan kujang jika diposisikan sebagai berhala. Karena sekarang ini dengan uang, orang bisa membeli apa saja, uang sering kali disebut raja kaya. Meskipun pada akhirnya ada hal-hal yang tidak bisa dibeli oleh uang, yaitu waktu.

Apakah dengan uang, seseorang dapat menambah satu hari menjadi 25 jam? Meskipun saya tidak bisa mengembalikan waktu di masa lalu, kujang menarik bagi saya karena memiliki nilai historis, suatu piranti yang mungkin tak kalah canggih dibandingkan dengan smartphone di zaman sekarang. Kujang menurut saya sebagai saksi bisu perjalanan sebuah generasi para pemegangnya, bisa dibilang sebagai cendera mata yang diturunkan turun temurun dalam sebuah keluarga, agar generasi penerus tidak lantas lupa siapa leluhurnya. Karena bernilai historis, akhirnya dalam sebilah kujang terdapat energi hasil dari pergumulan medan magnet si pemegang dengan material besi kujang tersebut. Jika diibaratkan sebuah chip, kujang juga membutuhkan bahasa pemrograman atau software agar kujang tersebut bisa berfungsi. Kujang juga bisa berfungsi sebagai antena yang dapat mengubah sinyal listrik menjadi sinyal elektromagnetik, ataupun sebaliknya sebuah kunci bagi orang sunda untuk mentransformasikan mikrokosmos kepada makrokosmos, begitu juga sebaliknya. Namun dari semua kemungkinan itu lebih tepatnya kujang dipandang sebagai simbol, sebagai spirit perwujudan ilmu pengetahuan, sebagai siloka makhluk cahaya bersayap yang turun dari langit.

Putusnya silsilah, menyulitkan seseorang mengetahui jati dirinya secara utuh. Meskipun saya dipandang bodoh, karena prilaku yang konon menelusuri ajaran leluhur belum tentu sesuai dengan syariat Islam yang tersemat dalam KTP-el saya. Namun sebagaimana diketahui diri terlahir sebagai orang sunda, meskipun hidup dan besar dalam kultur jawa. Sunda terpolarisasi menjadi suku, dimana bahasa ibu adalah acuannya. Jadi kebanyakan orang sunda yang terlahir dengan bahasa sunda justru asing dengan ajaran sunda sendiri. Termasuk saya sendiri, lebih condong mengerti segala sesuatu sebagai “pamali” (hal yang pantang dilanggar), tanpa sebuah penjelasan dari orang tua yang pada akhirnya menuntun pada pemberontakan dan pencarian untuk menunaikan hasrat ingin tahu.

Oleh karena itu wajar jika kujang, cukup populer sebagai senjata dibandingkan sebagai simbol identitas manusia sunda agraris, dimana pertanian adalah pokok pekerjaan sekaligus laku hidup untuk mengenal diri, alam semesta dan Sang Maha Pencipta. Kujang juga disebut dalam Sang Hyang Siksa Kandang Karesian, sebuah naskah seperti yang termaktub dalam Q.S. Al Hadiid ayat 25 sebagai “neraca”, naskah yang menuntun manusia agar dapat melaksanakan keadilan. Dari sinilah kemudian muncul pertanyaan bagi orang yang sering kali menafikan ajaran leluhur, melabelinya sebagai ajaran sesat, jika Islam adalah penyempurna, penutup semua ajaran, maka tidak akan ada pertentangan, lantas kenapa lebih senang membenturkannya daripada mencari petunjuk akan kebenaran Islam itu sendiri?

Di awal mula saya mengenal kujang, hal yang pertama saya mengerti bahwasannya kujang adalah benda pusaka yang memiliki daya magis yang sakti mandraguna, memiliki bentuk yang unik dan tajam sehingga dimungkinkan dapat merobek/melukai lawan. Namun setelah saya mencari berbagai referensi, saya lebih setuju kujang merupakan sebuah wesi aji, merupakan simbol yang mengandung ajaran-ajaran luhur tentang manusia sunda itu sendiri. Jika dibandingkan dengan ponsel pintar tanpa baterai maka tidak akan berfungsi , begitu juga jika ada baetrai tetapi tidak ada muatan listrik pun tidak akan hidup, dan jikapun sudah ada baterai dan muatan listrik tapi tidak ada software di dalamnya maka si ponsel pintar tadi tetaplah tidak bisa berfungsi. Begitu juga kujang sebagai simbol dalam menjabarkan ajaran-ajaran luhur sunda.

Kita bisa melihat dan mempelajari kujang dari berbagai sudut pandang, wajar pula dalam perjalannya terdapat perbedaan pemahaman. Adapun pemahaman dikembalikan kepada masing-masing pribadi karena “ilmu iku kelakone kudu nganti laku”. Jadi ilmu hanya bisa dirasakan dan dibuktikan oleh diri sendiri terlebih dahulu. Kujang biasanya berpasangan. Ku-Jang, Ku berarti oleh, Jang berarti jangjang/sayap. Maka kujang yang berpasangan merupakan oleh sepasang sayap. Maka dari sepasang sayap inilah manusia sunda diharapkan memiliki keilmuan yang akhirnya dapat menjadikan dirinya mampu terbang, atau menyelami semesta kehidupan yang teramat luas ini.

Ada hal yang menarik sebagai pengalaman saya, mungkin kebanyakan orang akan melihatnya sebagai peristiwa mistis. Seseorang meletakan kujang di dekat sebutir kelapa hijau, lalu dirinya menyalakan linting rokok klobot. Cuaca saat itu mendung dan hampir gerimis, padahal tidak jauh dari orang yang baru saja menyalakan rokok tersebut, sang kakak sedang melakukan hajatan syukuran khitanan, dua hari berturut-turut sebelumnya diguyur hujan. Bul … bul… bul… asap dari tembakau yang terbakar menyeruak ke angkasa. Tiba-tiba angin berhembus dengan kencang, awan yang tadinya sudah mendung hitam dan akan jatuh jadi hujan, bergeser jauh ke utara, cuaca pun menjadi cerah dengan sedikit dihiasi awan-awan tipis.

Mungkin disinilah transformasi mikrokosmos dan makrokosmos berlangsung. Hubungan manusia dengan alam terjadi, manusia sebagai makhluk yang diharapkan dapat mengatur, memelihara alam pun hadir di sini. Tentunya dengan sebuah proses ikhtiar, kebanyakan orang sering menyebutnya dengan ritual. Rokok dengan asapnya yang menurut Dr. Gretha Zahar sebagai ahli nanochemistry memiliki banyak manfaat dalam penyembuhan karena asap rokok dapat mengumpulkan merkuri penyebab dari semua penyakit di dalam tubuh. Lantas apa kaitannya dengan peristiwa pawang hujan di atas? Asap rokok merangsang simpul saraf dan urat manusia meningkatkan potensi-potensi daya magnetisme, sehingga lontaran harapan doa atau mantra yang terpogram di otak mengeksekusi kekuatan daya magnetisme di alam. Bisa jadi dalam peristiwa ini rokok adalah kunci. Namun dari jauh ada yang nyeletuk, “Ah itu sih rokok kesukaannya jin si pawangnya aja, sebagai bentuk imbal balik agar jin-jin meniupkan angin dan menggeser awan sehingga hujan tidak jatuh di tempat itu.”

Kembali ke kujang. Zaman sudah berganti, bunga-bunga bermekaran di Balai Kota Jakarta merayakan kekalahan Ahok sebagai Gubernur DKI yang tidak lagi terpilih. Di kubu yang lain tak mau kalah berita, pendukung Anies dengan menunjukkan roti buaya. Padahal kedua kubu yang berseteru di Pilgub DKI itu secara historis berada di Bumi Parahyangan. Bunga mekar akan layu juga, roti buaya dimakan jadi tai juga. Sebagaimana tertulis dalam Uga Siliwangi.

“Kalian yang di sebelah utara, dengarkan! Kota yang kalian datangi sudah tidak ada, yang kalian temuai hanya padang ilalang. Keturunan kalian kebanyakan akan jadi rakyat biasa. Apabila ada yang memiliki pangkat, akan tinggi pangkatnya tetapi tidak mempunyai kekuasaan. Suatu hari nanti keturunan kalian akan kedatangan tamu. Banyak tamu yang akan datang dari jauh, tetapi tamu yang susah dan menyusahkan. Waspadalah!”

Smartphone lebih menarik untuk dimiliki daripada sebilah kujang. Karena dengan smartphone kita bisa berseteru untuk riuh dalam peristiwa pemilihan Bupati, Gubernur dan Presiden. Kujang kini beredar sebagai suvenir yang dijual secara online, terkadang juga sebagai senjata tajam yang disalahgunakan untuk melakukan curas dan tawuran. Bersyukurnya juga smartphone dapat mengulas apa itu kujang? Dan filosofi kujang dapat mengarahkan kita untuk dapat menggunakan smartphone secara pintar, tidak mudah terprovokasi, tidak mudah termakan berita hoax, tidak mudah diadu domba, tidak mudah pula menukar tanah warisan leluhur hanya untuk membeli smartphone.

Semoga saja bagi para jomblo setelah membaca misteri kujang lantas tidak terkatung-katung seperti Bocah Angon yang sedang menggembalakan nafsu syahwatnya. Memahami magnetisme akhirnya akan melatih diri agar dapat menarik pasangan, meskipun keberadaannya jauh di Afrika sana? “Ih … masa di Afrika sih kakak, aku pengennya yang kaya Oppa di Korea,” celetuk yang cewe. “Ehm.. kalau aku maunya gadis Rusia kakak,” celetuk yang cowo. Nah kan, sukanya teriak jangan rasis, giliran jodoh pengennya milih, duh dek…

Bagi yang sudah jadi papah muda semoga setelah membaca Misteri Kujang, lebih mengetahui dan mengontrol magnetisme di dalam dirinya. Jangan sampai ibunya anak-anak di rumah cemberut terus karena, dedek-dedek gemes tertarik medan magnetmu. Ingat !

“Setinggi-tingginya burung terbang pulang ke sarang juga” wallahualambisawab

BONUS: INFOGRAFIS KUJANG

(Sumber: Behance.net)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *