Ber-etika Meski Berbeda, Tetaplah Yakin Bhineka Tunggal Ika

Dalam kehidupan sosial, moral dan etika seseorang bisa menutupi kekurangan IQ (Intelligence Quetient) atau nilai kecerdasan. Tetapi IQ atau kepintaran bagaimanapun tingginya tidak akan bisa menolong etika yang buruk, makanya ketika ada orang pergi ke orang pintar untuk meminta sesuatu yang instant, misal mengerjai seseorang dengan santet hanya karena menjadi seteru, lawan bisnis atau lawan politik, meskipun dia pintar namun secara moral dan etika dia buruk. Di sinilah kemudian dikenal diperlukan EQ (Emotional Quotients) kecerdasan emosional untuk pengendalian diri sendiri dan ketika orang sudah bisa mengendalikan dirinya maka berlanjut kepada SQ (Spiritual Quotients) kecerdasan jiwa, sebagaimana ungkapan “Barang siapa mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya”.  Orang yang mengenal dirinya sendiri akan tercermin dari kesabarannya, sedangkan sabar sendiri adalah salah satu jalan untuk menempuh surga Allah Subhanahu wa ta’ala.

Sabar itu memang susah, tapi lebih susah lagi kalau tidak sabar, sabar itu konon tidak ada batasnya, kalau ada batasnya pasti masih bukan mukhrimnya. Gara-gara Pak Sabar dan Bu Sabar, saya jadi ingat kejadian lucu pagi ini, dari status dan komentar yang dikirim di dinding facebook kawan saya. Hanya karena kawan saya ini tidak menyetujui tindakan Ansor dan Banser kemarin dalam menghalau pawai aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Sabtu, 1 April 2017. Para aktivis HTI ini akan mengadakan tabligh akbar atau kirab dengan tema “Khilafah Kewajiban Syariat” di Surabaya, Minggu, 2 April 2017. Penghadangan terjadi di daerah perbatasan Tulungagung dan Trenggalek oleh GP Ansor dan Banser. Kawan saya lantas berkomen ria dengan sadar ataupun khilaf menggunakan kata-kata kotor. Untung kawan saya itu bukan Ki Jarwo Sableng, kadang dia ngumpatnya banyak keterlaluan, “Kehed… Negara Khilaf…(fahk) Rampok itu duit triliunan, saking gemesnya tak bosan-bosannya kasus korupsi yang triliunan itu dikemukakan ke publik tanpa bagi-bagi duitnya, coba kalo duitnya buat mentraktir Pamungkas Wh makan krupuk mlarat Cirebon buat teman lembur ngadepin deadline, gak kebayang deh tuh berapa bungkus kerupuk mlarat, atau duitnya dikasihin ke juragan Randi pasti dia ajak pemandu lagu se-antreo Nusantara buat umroh”.
Habis ngumpat, keselek ampas kopi pait, yang tanpa sadar airnya sudah kekeringan, bocor alus. Eh dia ngumpat lagi “Jancuuuuk….”

Sebetulnya di Indonesia, warga negara dilindungi dalam menyatakan pendapat, hak dan kewajibannya sudah diatur dalam Undang-undang. Ada batas-batas yang jelas dan harus ditaati, misalnya tidak menganggu ketertiban umum, mematuhi aturan-aturan yang ditentukan, dan tetap menjaga keamanan serta ketertiban. Mari kita renungkan bersama UUD 1945 BAB X, Tentang Negara dan Penduduk. Pasal 26 ayat 3 (tiga) berbunyi : Hal-hal mengenai warga negara dan penduduk diatur dengan undang-undang. Pasal 27 ayat 1 (satu) berbunyi : Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. Ayat 2 (dua) berbunyi : Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan Negara. Pasal 28, berbunyi : Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.

Kembali kepada apa yang telah dilakukan oleh kawan-kawan GP Ansor dan Banser kemarin, secara pribadi saya menyatakan mereka tidak salah, dalam artian tindakan mereka pastinya memiliki landasan kuat, dan bukan tindakan gegabah ataupun sembrono, jika ada yang tidak sepakat, monggo… kita single main gaple sampe pagi atau kalau kurang syar’i kita single menghafal surat-surat pendek. Namun kalau masih juga ingin tahu dasar hukumnya secara undang-undang coba perhatikan lagi Pasal 27 di atas. Dan apabila masih ada yang semakin dongkol bin mangkel, ada hak jawab jika ada tulisan yang dimuat di media tidak berimbang, tidak lantas menyerang pribadi, dan membunuh karakternya dengan menyebut “Oknum Banser” “Innalillah, mereka merebut bendera tauhid” dan kalimat-kaimat provokatif lainnya.

Terkait masalah bendera yang diamankan oleh kawan-kawan Banser, mengutip dari pendapatnya Gus Nadirsyah Hosen ( Ketua PCNU Cabang Australia ) dimulai dari tweet ke-12 Beliau “(12) hadis riwayat Thabrani dan Abu Syeikh yang bilang bendera Rasul hitam dan panjinya putih, itu dhaif. (13) Riwayat Thabrani ini dhaif karena ada rawi yang dianggap pembohong yaitu Ahmad bin Risydin. Bahkan kata Imam Dzahabi, dia pemalsu hadis. Lalu, (14) Riwayat Abu Syeikh dari Abu Hurairah itu juga dhaif, karena kata Imam Bukhari, rawi yang namanya Muhammad bin Abi Humaid, itu munkar. Kemudian (15) Riwayat Abu Syeikh dari Ibn Abbas hadisnya masuk kategori hasan, bukan sahih. (16) Riwayat lain bendera Rasul yang warnanya hitam atau putih atau kuning atau merah, itu tidak ada tulisan apa-apa. (17) Katakanlah ada tulisannya, maka tulisan khat jaman Rasul dulu beda dengan yang ada di bendera ISIS dan HTI. (18) Jaman Rasul tulisan Al-Quran belum ada titik dan khatnya, masih pra-Islam yaitu khat kufi. (19) Makanya, meski mirip, bendera ISIS dan HTI itu beda khatnya. Kok bisa? Padahal sama-sama mengklaim bendera Islam. Itu karena rekaan mereka saja”, tandas Gus Nadir. Dan ditegaskan lagi di tweet ke-20 dan ke-21 “Jadi, tidak ada contoh otentik dan sahih tentang bendera Rasul itu seperti apa. Itu rekaan orang-orang ISIS dan HTI berdasarkan hadis-hadis yang tidak sahih. Intinya, jangan mau dibohongi sama bendera Islam-nya HTI dan ISIS. Perkara ini bukan masuk kategori syari’ah yang harus ditaati”. Setelah membaca paparan tweet di atas saya beranggapan bahwa GP Ansor dan Banser merebut bendera tauhid tidak memiliki dasar apapun untuk disebut menentang Agama Islam.

Apabila ditarik sedikit ke belakang, kejadian gesekan kemarin bukanlah yang pertama kalinya terjadi. Banyak kejadian ketika terjadi perbedaan pendapat, menjadi alasan untuk mencaci maki dan memberi label “Sesat”, “Munafik” bahkan sampai pada “Kafir” kepada sesama Muslim. Kita ambil satu contoh, saat Kiai Ishomuddin menjadi saksi dalam sidang kasus dugaan penistaan agama oleh Gubernur Jakarta, beliau memiliki pendapat yang berbeda, dari pendapat kelompok tertentu, dan karena pendapatnya tersebut, Kiai Ishomuddin mendapatkan tekanan dan sentiment negatif, bahkan sampai pada teror dengan pelemparan botol pada kaca ke rumah beliau. Tindakan-tindakan tersebut bukanlah budaya kaum intelektual, khususnya bagi bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi adat serta etika moral dalam menyelesaikan masalah.

Kelompok-kelompok radikal di Indonesia yang mengatasnamakan agama (dalam hal ini agama Islam) seringkali meneriakkan mereka cinta Indonesia, ingin membawa Indonesia lebih baik, namun dalam tindakannya justru sangat kontradiktif. Mereka membuat dan menyebar opini yang cenderung provokatif, dan playing victim ketika keadaan sedang terdesak. Mereka sama sekali tidak menampakkan budaya sopan santun dan Islam rahmatan lil’alamin yang diajarkan leluhur dan para pendiri negara ini. Meskipun nanti ada yang nyeletuk “Islam kok mengikuti leluhur, Islam itu mengikuti Al-Quran dan Hadis”. Padahal para pendiri bangsa ini juga belajar pada guru-guru yang jelas sanadnya, pertanyaannya kenapa mereka memilih bentuk negara ini sebagai Republik bukan Khilafah, pastinya atas berbagai pertimbangan dan zaman yang sedang bergerak ini toh pada akhirnya akan bermuara pada kehancuran seluruh negara, jika kita meyakini akan terjadinya hari kiamat? Saat pergerakan dalam membentuk sebuah negara yang kini dinamakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), telah dimufakati bersama dan dituangkan dalam konstitusi, jadi segala polemik bentuk negara sudah final. Nah, walaupun para pejuang khilafah yang sekarang tinggal di Indonesia ngotot, keukeuh hendak mengubah NKRI ini, kenapa tidak merenung kembali untuk bersabar menunggu negara ini runtuh dengan sendirinya. Atau terkecuali jika semua elemen rakyat telah menyatakan bahwa negara ini telah gagal mengemban amanat konstitusi serta benar-benar negara ini sudah bermufakat untuk membubarkan diri. Ya… bolehlah para aktivis Khilafah untuk mengajukan diri, namun jika itu tak kunjung terjadi jangan pula sakit hati apabila dituduh makar. Bersabarlah wahai para aktivis khilaffah, karena sabar adalah salah satu jalan menuju surga. Kita tunggu bersama terjadinya perang Armageddon, dan sebelum perang itu terjadi mari kita saling membangun di dalam NKRI ini tanpa dengan mudah mengkafir-kafirkan. Setelah perang Armageddon atau mungkin juga bisa disebut Perang Dunia ke-3, semua negara akan porak poranda, dan Khilafah mungkin bisa menjadi tawaran menarik, seperti yang juga ditawarkan oleh Comintern.

Pada akhirnya, kedewasaan dan kematangan seseorang dapat dilihat bagaimana ia menyingkapi perbedaan dan permasalahan yang ada, semakin dewasa orang akan bisa dan faham membedakan betul apa yang menggelora di dalam dada. Semakin matang maka buah akan jatuh dengan sendirinya dan bijinya akan tumbuh menjadi pohon baru, tanpa dendam tanpa paksaan, hidupnya setia pada gerak alam. Begitukah hidayah? Tanpa mengkafirkan orang lain pun, tak akan berkurang kemuliaanmu di sisi Allah, jika dirimu menyayangi yang di bumi yang di langit akan menyayangimu. Mohon maaf atas segala kesalahan dan jika ada ketidasamaan pemahaman mohon pula dimengerti karena sepasang suami istri saja sering kebingungan menentukan posisi yang tepat untuk interior rumahnya. Jika ada kopi pait, bolehlah untuk diminum. Jika ada hati yang menjerit, bolehlah untuk tersenyum. Dengan menyebut nama Allah, semoga rukun damai sentosa selalu, bersatu kita teguh bercerai belum tentu dapat jodoh yang lebih baik. Wallahualambisawab…