5 Fakta Menarik #FilmKartini

“Saya sudah lama sekali ingin kerja sama Dian Sastro. Dia yang nolak terus,” curhat Hanung Bramantyo kepada Kompas.Com.

Bulan lalu kita merayakan Hari Film Nasional (HFN) tepatnya 30 Maret 2017 yang mengusung tema “Merayakan Keberagaman Indonesia”. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Perusahaan Film Nasional menyelenggarakan berbagai program, mulai dari workshop film tingkat dasar sampai pemutaran film gratis. Kalo kamu ketinggalan beritanya, pasti karna loe lom jadi naq gawl getho.

Memasuki bulan April ini bioskop Indonesia bakal dihiasi judul film-film dalam negeri yang juga cukup beragam. Sebut saja Danur yang sudah menembus angka 2 juta penonton, film drama komedi arahan Raditya Dika: The Guys, Night Bus, Mengejar Halal, Best Friend Forever, Labuan Hati, Stip dan Pensil, dan yang terbaru Film Kartini produksi Robert Ronny dari Legacy Pictures.

Film Kartini versi 2017 ternyata bukan yang pertama kali dibuat, lho. Sebelumnya, film berjudul R.A. Kartini pertama kali digarap oleh sutradara Sjumandjaja tahun 1982. Sjumandjaja merupakan ayah kandung Djenar Maessa Ayu, salah satu pemeran dalam film Kartini 2017. Menceritakan perjuangan Kartini demi kesetaraan pendidikan dengan kaum laki-laki. Selanjutnya, Surat Cinta untuk Kartini (2016) yang diperankan oleh Rania Putrisari dan Chicco Jerikho, kisah fiksi tukang pos yang jatuh cinta dengan Kartini.

Setelah berencana memulai syuting pertengahan Juli 2015, para cast dan crew film ini dikabarkan ingin menyajikan cerita yang otentik sehingga proses pengerjaannya tertunda selama satu tahun sebagai imbas dari kebutuhan riset yang mendalam guna pengembangan skenario. Sang sutrada mengaku banyak terbantu dari tulisan dalam buku Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer. Perilisannya pun sudah pasti ikut molor, dari yang awalnya direncanakan tayang 2016, film biopik terbaru Hanung Bramantyo ini pun siap dilepas ke pasaran 19 April. Sebelum nonton, mendingan kamu baca dulu 5 Fakta Menarik #FilmKartini berikut ini.

1. Film Kelas A dengan Deretan Pemain Bintang
Berhasil memboyong piala di Festival Film Indonesia dalam Mencari Hilal, Deddy Soetomo dipertemukan dengan Dian Sastrowardoyo dan Christine Hakim dalam film Kartini. Dian bakal ditemani juga oleh Acha Septriasa dan Ayushita Nugraha. Tak ketinggalan, satu orang anggota Genk Cinta dalam AADC, Adinia Wirasti pun turut berperan di film ini. Nama Djenar Maessa Ayu yang merupakan putri Sjumandjaja, sutradara yang pertama kali mengangkat kisah R.A. Kartini ke layar lebar ikut dilibatkan. Beranjak ke jajaran aktor, nama Denny Sumargo dan Dwi Sasono akan menghiasi deretan bintang yang disempurnakan oleh kehadiran Reza Rahadian. Mendapat amanat dan nasihat dari pihak keluarga mendiang Kartini menjadi alasan pemilihan pemain yang sudah terbukti mempunyai kualitas dan diharuskan memiliki citra yang baik pula.

Deretan pemain yang terbilang cukup mentereng ini tak ayal menimbulkan tanda tanya di benak kita: Berapa biaya yang dihabiskan untuk produksi film ini? Sang sutradara mengaku bahwa “harga” para pemain film ini tidaklah sefantastis yang dibayangkan kebanyakan orang. Ia melanjutkan, justru biaya artistiklah yang menjadi pos pengeluaran terbesar pada proses syuting film ini. “Saya membangun set untuk rumah Kartini, kereta kudanya itu beda-beda.” Tak hanya artistik, dana mahal pun dikucurkan untuk penyewaan alat-alat, kamera misalnya. Kamera yang digunakan untuk pengambilan gambar film ini berjenis alexa. “Sewa kameranya mahal, 10 sampai 13 juta per hari. Bayangkan, satu hari mini alexa sama lensanya 13 juta,” lanjut Hanung lagi.

2. Membuat Film untuk Diri Sendiri
Dalam sebuah kesempatan, Hanung pernah berkata bahwa ia ingin membuat film untuk dirinya sendiri. Ia punya pengalaman unik semasa kecil yang membuatnya berpikir apakah setiap hari lahir Kartini harus dirayakan. Hingga akhirnya sutradara 41 tahun ini pun menemukan jawabannya, “Kartini mengingatkan kita kembali sebagai manusia. Tubuh dan pikiran dia menjadi miliknya sendiri.”

Selain itu, bagi Hanung, film adalah “dialog”. Bukan dialog antarperan satu dengan yang lain dalam layar, melainkan lebih dalam lagi. Dialog yang terhubung antara pencipta dengan pencipta dan antara pencipta dengan penonton.

Kartini sekaligus menjadi film biopik ke-5 Hanung Bramantyo setelah sebelumnya ia menyutradarai film Sang Pencerah (2010), Soekarno: Indonesia Merdeka (2013), Habibie & Ainun (2012), dan sebuah film dokumenter tentang Jusuf Kalla di tahun 2009.

3. Soundtrack film ke-5 Melly Goeslaw bersama Hanung Bramantyo
OST film Kartini merupakan kerjasama ke-5 Melly Goeslaw sebagai pengisi soundtrack alias lagu tema film karya Hanung Bramantyo. Bermula dari Ayat-ayat Cinta, Melly Goeslaw menciptakan lagu tema berjudul sama dengan filmnya dan dinyanyikan oleh Rossa. Rentang waktu yang cukup lama sebelum keduanya kembali bekerjasama untuk lagu tema film Habibie dan Ainun yang dibawakan Bunga Citra Lestari pada tahun 2012. Film sekuelnya, Rudy Habibie pun penggarapan lagu tema masih ditangani Melly hingga berlajut ke Surga yang Tak Dirindukan (2017). Kali ini, Melly berkolaborasi bersama mantan saya Gita Gutawa –meskipun kita berdua tak pernah jadian karena Kartini pun tau-tau menikah gitu ajah setelah dilamar, untuk mengisi lagu tema film Kartini berjudul ‘Memang Kenapa Bila Aku Perempuan?’.

Tahun 2002, Melly Goeslaw mulai menggarap album soundtrack untuk film Ada Apa Dengan Cinta? Bersama dengan sang suami, Anto Hoed. Sukses besar membawanya terpilih untuk menjadi langganan menggarap lagu tema untuk film-film Indonesia lain. Tercatat, Melly berhasil menelurkan 6 album soundtrack ditambah satu lagu dibawakannya bersama Potret, dan 7 penampilan lain (sebagai composer, penulis lirik atau produser).

4. Dian Sastro yang Ketuaan
Memang usia tak dapat dibohongi, Dian Sastro yang kini berusia lewat dari 30 tahun dianggap terlalu tua untuk memerankan soosk Kartini bagi Hanung. Ia mencari gadis usia 12-23 tahun untuk menjadi pemeran Kartini muda. Karena memang di rentang usia itulah film Kartini ini akan berkisah. “Tadinya saya pengen yang jadi Kartini itu umurnya 12-23 tahun. Buat saya tragedinya di situ, karena di umur segitu, mestinya lagi seneng-senengnya sekolah tapi malah dinikahin. Saya inginnya ngomong kaya gitu, di era sekarang ada anak SMP yang dinikahkan sama orangtuanya,” cerita Hanung seperti dikutip Detik Com.

Pertama kali ikut casting, saat itu Dian ditawari peran Ngasirah muda, ibu Kartini. “Kata Mas Hanung, ‘Kamu ketuaan, Di. Kamu jadi Ngasirah muda saja‘”. Beruntunglah mbak Dian gak njawab, “Mas Hanung, yang kamu lakukan ke saya itu… jahat!”.

Kepada Detik Com Hanung berkata lagi, “Karena Dian Sastro mewakili spirit Kartini. Dia feminis, ibu mandiri, punya beasiswa sekolah, dan waktu saya ngobrol sama dia, dia punya pemikiran Kartini yang inherent sama dia. Buat saya, ya, Dian orangnya”. Tapi menurut penulis sih bukan karena Dian memiliki pemikiran seperti Kartini, lebih daripada itu justru usia 30 bagi perempuan adalah usia dimana seorang perempuan sedang menunjukan daya tarik yang sebenarnya. Dalam seni peran justru Dian seharusnya mampu memerankan Kartini di usia 12–33 tahun. Disinilah tugas besar para penata artistik yang seharusnya mampu menyulap penampilan Dian menjadi 10 tahun lebih muda tanpa harus ribet bolak-balik ke klinik kecantikan atau tertipu berbagai promosi produk kecantikan. Nah apalagi kalau membayangkan Raden Adipati Joyodiningrat bertolak dengan seorang Rangga sebagai seorang pribadi bebas. Hayo siapa yang lebih “Jahat” jahap.. jahap… jahap… Adakah dialog yang mengatakan “kamu jaaahaaat, Raden…” sembari Kartini menatap tajam mata Raden Adipati Joyodiningrat.

5. Nonton Filmnya!
Khusus fakta yang terakhir ini, kamu harus temukan sendiri versimu. Gimana caranya? Ya, pergilah kelen ke bioskop sana dan nonton filmnya. Tapi awas, gak usah ngerekam buat di-post di IG story! Biar lebih ngirit, supaya bisa membawa makanan ke dalam bioskop pakailah jubah laiknya Dimas Kanjeng. Eits, perlu diingat juga, sampahnya jangan dibuang sembarangan atau dibiarkan berserak di dalem bioskop. Satu hal lagi, kalau kamu masih jomblo cobalah ajak Ayah dan Bunda untuk ikut menonton, siapa tahu mereka terinspirasi untuk menemukan sosok Raden Adipati Joyodiningrat untuk mengakhiri kejombloanmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *