Kampung Adat Jalawastu, Para Penjaga Lemah Kaputihan Gunung Sagara

Tradisi pengajaran di Kampung Adat Jalawastu diwariskan tidak dalam bentuk buku, melainkan tradisi pitutur, bercerita secara turun temurun tentang aturan adat dan sejarah. Kedatangan saya ke Jalawastu bukan tanpa tujuan bukan pula karena hanya ingin cekrek cekrek pake hengpon jadul untuk kemudian diunggah di akun Instagram atau Facebook. Bukan pula ingin jadi orang sakti seperti sering dituduhkan banyak orang jika mengunjungi tempat yang berbau keramat. Sesakti-saktinya orang toh sakit juga, begitulah celoteh anak era internet. Namun suatu hari sekira tiga tahun lalu saya bertemu dengan seorang tua yang mengaku bernama Ki Tarsijan, ia kemudian menyuruh saya agar mendatangi Lemah Kaputihan.

“Carilah sulur hingga ke akar darimana kamu berasal”.

Kampung adat Jalawastu berada di Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Upacara Adat yang terkenal dari kampung ini adalah upacara ngasa, lazim pula disebut sideukah bumi/gunung, bentuk rasa syukur atas apa yang telah diberikan bumi kepada manusia sebagai rahmat dari Tuhan. Ngasa dilakukan hari Selasa Kliwon atau anggoro kasih yang menurut jawa merupakan hari penuh kasih sayang. Jika Valentine dirayakan setahun sekali, orang Jawa dalam seminggu punya satu hari yang mengacu kepada kasih sayang. Di hari Selasa Kliwon mangsa kasanga lah upacara ngasa dilakukan.

Jalawastu menjabarkan Gunung Sagara, dimana di tempat inilah dipercayai sebagai tempat pengajaran, atau bisa dibilang padepokan para Resi. Menurut penuturan Aki Daryono –panggilan “Aki” saya sematkan sendiri, beliau adalah keturunan dari juru kunci Gedong Pasarean, meskipun keturunan, beliau sendiri mengaku bukan juru kunci Gedong Pasarean. Karena syarat menjadi juru kunci harus naik ke puncak Gunung Sagara, sementara usia Aki telah senja, maka tanggung jawab diserahkan kepada adiknya. Meskipun bukan juru kunci, warga mengarahkan saya agar menemui Aki Daryono. Aki Daryono menuturkan bahwasannya di Gunung Sagara, agama sudah dikenal sejak 5000 tahun silam. Jadi, bagi semua golongan yang akhir-akhir ini saling berebut kuasa dan memperalat agama, selayaknya belajar kepada Gunung Sagara. Agama tidak membuat kericuhan tetapi memberikan kesejukan dan keteraturan.

Di Jalawastu juga ada cerita tiga orang bersaudara yaitu Gandasari, Gandawangi dan Gandasetra. Gandasari sebagai kakak tertua menolak masuk Islam dan memilih pergi ke ujung barat pulau jawa. Konon di Baduy lah Gandasari akhirnya bermukim. Saat pertama kali ke Baduy sudah ada satu rumah dan akhirnya keturunan Gandasari beranak pinak di sana. Analisa bahasa bisa dijadikan landasan hubungan Jalawastu dengan Baduy, secara ucapan bahasa sunda yang digunakan hampir sama. Dari sini kita bisa berkaca bahwa agama adalah pilihan yang sangat personal, seharusnya yang enggan beragama Islam sudah tidak usah membawa-bawa Islam untuk mendapatkan kekuasaan dan pengaruh dalam kehidupan sosial. Begitu juga yang Islam, jika orang lain memilih tidak memeluk Islam, ya, tidak usah merasa paling benar sendiri dengan melampaui batas.

Puncak Gunung Sagara berada di gugusan pegunungan yang lebih dikenal dengan Gunung Kumbang. Konon ada naskah yang diambil oleh Bupati Brebes R.A.A. Tjandranegara yang kemudian diserahkan kepada seorang ahli bahasa K.F. Holle di Batavia. Dalam naskah Sewaka Darma dari Kabuyutan Ciburuy, Garut dan Carita Ratu Pakuan menyebutkan bahwa naskah lahir dari hasil perenungan atau bertapa di Gunung Kumbang. Banyaknya sejarah yang terkubur dalam Gunung Sagara akhirnya harus ikut terpendam dengan banyaknya mitos.

Gunung Sagara

Menurut portal Wacana.co, naskah Sewaka Darma merupakan salah satu dari sepuluh naskah Ciburuy. Ciburuy merupakan salah satu kabuyutan pada masa Sunda Kuno, atau bisa disebut mandala di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kabuyutan merupakan tempat menuntut agama kaum intelektual masa Sunda Kuno. Dalam naskah Sewaka Darma pada bait-bait terakhir menyebutkan tempat bernama Gunung Kumbang. Penulisnya bernama Buyut Ni Dawit yang bertempat tinggal di batur/pertapaan Ni Teja Puru Bancana di Gunung Kumbang.

Atma milang sinurat ring meraga
Paying beunang numpi
Di Gunung Kumbang pun
Batur Ni Teja Putu Bancana
Tilas Sandi ti Jenggi
Pangwedar beunang Buyut
Ni Dawit pun

——-

Sedangkan di dalam Carita Pakuan jelas disebutkan kata “pertapaan Bagawat Sang Jalajala”, apakah Jalajala bisa dikaitkan kepada Jalawastu? Disebutkan pula Sang hyang Salal Ading, apakah juga bisa dikaitkan dengan nama Sala Gading? Berikut ini adalah kutipan bait dari Carita Pakuan yang mengacu pada keberadaan Gunung Kumbang sebagai tempat pertapaan.

Gunung Guruh Bukit Sri Prabekti, salaka Sanghiyang Nusa, di susuku Gunung Ku(m)bang
Bukit si Salaka Mirah, ma(n)dala Sri Kapundutan
Di Sanghiya(ng) Salal Ading, nu mepek nu bumi manik, Petapaan Bagawat Sang Jalajala, susulan watek dewata, murba ka bumi Pakuan
Gunung Pagu Ma(n)dala Ku(m)paybwana, patapaan Batara Tu(ng)gal, nu nitis ka Su(n)ten Agung, ngapu[g]han moheta bedas, maha[n]nan di Gunung Ku(m)bang

——-

Meskipun tradisi literasi bergeser kepada tradisi pitutur, sebagaimana pengakuan Aki Daryono bahwa di Jalawastu tidak terdapat buku sejarah namun daripada itu jelaslah bahwasannya area Gunung Kumbang sebagai tempat pengajaran dan puncak Gunung Sagara merupakan petilasan Resi di zaman Sunda Kuno.

Resi atau pertapa atau orang suci di antaranya dalah Raja yang memilih mengasingkan diri setelah dirinya purna tugas mengatur negara dan telah mengangkat putra mahkota menggantikan dirinya untuk memimpin tampuk kerajaan. Seorang putra mahkota yang menggantikan tentulah orang yang telah dididik lahir dan batin secara keilmuan, diharapkan menjadi raja yang adil dan bijaksana membawa rakyat dan negaranya meraih kemakmuran.

Lantas adakah Resi di era demokrasi liberal ini? Carut marut kondisi politik akhir-akhir ini dapat dilihat dari banyaknya tangan dingin tersembunyi dari mantan penguasa di negeri ini untuk dapat terus mengendalikan kekuasaan sesuai ambisi mereka. Cocoklah mereka dipanggil sebagai Barisan Mantan daripada panggilan Resi? Tanya saja pada Ahoker atau Aniser, karena Prabower dan Jokower sudah menyublim menjadi banyak sosok mulai dari pemilihan Bupati hingga Gubernur. Seharusnya yang muda bisa duduk sama rendah dengan yang tua, begitu juga berdiri sama tinggi. Para generasi penerus yang telah dipersiapkan dengan matang sudah selayaknya diberi kepercayaan untuk memimpin, bukan disetir atau di-setting sebagai petugas partai. Pemimpin adalah milik semua golongan, sebuah periode dimana dirinya akan menginjak sebagai Resi dan akhirnya hanya berharap moksa dan bertemu dengan Sang Hyang Widi, sebagai puncak tujuan hidup bertemu dengan Tuhan-nya sebagaimana sila pertama Pancasila, Ketuhanan yang Maha Esa.

Bersama Aki Daryono

Kawasan Jalawastu dan Gunung Sagara juga disebut Lemah Kaputihan. Lemah Kaputihan menurut Aki Daryono sebagaimana telah dituturkan Ki Tarsijan kepada saya adalah tempat suci, dimana orang yang ada ditempatnya harus memiliki kejujuran dan berhati bersih. Sedangkan Gunung Sagara diibaratkan samudera/laut, seorang pemimpin harus memiliki pikiran, pengetahuan, ilmu seluas samudera. Di kawasan Jalawastu semen dan genting dari tanah haram digunakan. Oleh karena itu rumah-rumah di Jalawastu hanya beratapkan seng dan beralaskan tanah atau papan kayu. Sebelum beratapkan seng, awalnya atap dibuat dari tumpukan ilalang yang disusun rapih, namun karena terjadi kebakaran hebat yang membakar banyak rumah pada akhirnya tetua kampung memohon petunjuk, dan akhirnya seng diperbolehkan menjadi pengganti.

Jalawastu terbagi menjadi dua Rukun Tetangga dan terdapat kurang lebih 85 rumah. Penduduknya kebanyakan bermata pencaharian sebagai petani. Karena terkenal dengan Lemah Kaputihan, di Jalawastu tidak aneh kalau barang-barang dan hasil pertanian atau buah-buahan aman dari pencurian. Sebelum Aki Daryono mengantar saya ke Gedong Pasarean, kami sedikit berbincang-bincang. Saya ditanya tentang maksud dan tujuan, sebagaimana maksud awal keinginan saya untuk dapat bersilaturahmi dan mencari jawaban dari pesan yang disampaikan kepada saya tentang sulur kehidupan. Nini Daryono memberi suguhan pisang dan makanan lain. Usia Nini Daryono lebih tua dari Aki Daryono. Melihat kehidupan sepasang suami istri ini begitu bersahaja di Jalawastu, bagi para pencari keheningan ini adalah tempat yang sangat recommended. Terkadang kota yang penuh dengan tipu muslihat sangat membuat nalar kemanusiaan kita menjadi binatang. Jalawastu bisa merefresh pikiran, melihat anak-anak bermain mainan tradisional, melihat ibu-ibu dan bapak-bapak yang lebih santai dan berpenampilan ala kadarnya tanpa kepalsuan.

Setelah berbincang-bincang, perjalanan diteruskan menuju Gedong Pasarean. Aki Daryono sempat berujar bahwasannya Gedong Pasarean ini adalah Cirebon Girang dimana tempat mendiang Embah Kuwu Sangka Urip, sedangkan Cirebon tengah ada di Dukuh Cijeruk, lalu Cirebon Hilir ada di Pesanggrahan Gunung Jati. Tempat pesarean Embah Kuwu Sangka Urip semuanya ada 41 tempat. Dari penuturan Aki Daryono ini saya mendapat jawaban akan doa yang lazim dipanjatkan tetua kampung di desa kelahiran saya, berkirim doa ke para sesepuh Cirebon Hilir dan Cirebon Girang. Orang awam sering mengartikan doa ini sebagai bentuk permintaan kepada arwah dan dimusyrikkan, sejatinya tidak! Ini adalah ucapan bahasa sunda untuk mendoakan karuhun yang sudah meninggal, merujuk ke Cirebon Girang, Jalawastu jelas sebagai tempat muasal pengajaran Sunda Kuno/Sunda Wiwitan dan Cirebon Hilir Gunung Jati sebagai akulturasi Arab (Islam), Sunda, Jawa, China.

Bukankah toleransi sudah tumbuh sejak dulu? Jauh sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia ini lahir? Ketika banyak orang dengan mudahnya mengkafirkan adat ajaran leluhur, sesungguhnya mereka hanya memahami sesuatu dari kulitnya saja, sekadar memabaca teks, tanpa merasakan dan berusaha menyusuri apa yang sebenarnya terjadi antara hubungan manusia dengan alam dan bagaimana cara mereka berkomunikasi. Wajar jika sekarang banyak orang berpakaian agama tetapi tutur kata dan perilakunya jauh dari agama itu sendiri. Bagaimana mau menjadi khalifah yang bercita-cita mendirikan khilafah, jika tidak bisa merasakan bahasa alam? Agama mengajarkan bukan hanya sesama manusia saja yang harus rukun, tetapi dengan jin, tumbuhan, hewan dan makhluk di semesta yang luas ini harus bisa rukun. Buktinya meskipun saya sudah berulang kali diruqyah tetapi karena nafsu setan dalam diri saya cukup besar, apakah lantas setelah diruqyah saya menjadi sosok laiknya Habib Rizieq? Saya tetap menjadi diri saya yang pada akhirnya justru harus bisa mengenali setan dalam diri saya dan berusaha mengendalikannya, bukan memusuhinya, meskipun iblis dan setan adalah sebenar-benarnya musuh yang nyata.

Sebelum Gedong Pesarean terdapat sungai kecil yang airnya cukup sejuk. Saya mengambil wudhu sebagai sarana menyucikan diri. Aki Daryono menanyakan kepada saya apa saya membawa dompet kulit, saya mengiyakan lalu beliau mengambil dompet saya dan menaruhnya di tanah ditutupi daun dan batu. “Biasanya monyet di sini suka jahil, itu tadi yang mutusin sambungan pipa air juga monyet,” begitu penuturan Aki. Sebelum berdoa Aki Daryono membakar kemenyan sebagai wewangian, beliau seolah meminta izin kepada saya terlebih dahulu, “lamun di dieu mah meuleum meunyan (kalau di sini membakar kemenyan)”. “Mangga,” jawab saya sembari membatin toh di Ka’bah juga selalu diberi wewangian yang dibakar. Setelah Aki berdoa, begitu saya hayati dan cermati betul, tetap saja berdoanya kepada Allah dan mengaku sebagai umat kanjeng Nabi Muhammad, bukan kepada kuburan yang sering kali orang tuduhkan. Aki Daryono juga mempersilakan saya untuk berdoa versi saya.

Setelah berdoa ada hal yang menarik yaitu sarana berkomunikasi dengan alam melalui dahan kayu yang terdapat ikatan. Dahan kayu itu kemudian direntangkan dari ujung jari tengah tangan kiri saya hingga ujung jari tengah kanan saya, istilah sundanya ngadeupa. Cara ini unik ketika seseorang menganalisa diri dan peluang. Dan alam memberi tahu kita lewat pertanda, karena alam tidak bisa bercakap-cakap layaknya manusia.

Gunung Sagara memang dikenal sebagai tempat mistis. Tidak dimungkiri banyak orang datang ke tempat ini untuk berbagai kepentingan dengan berbagai ritual. Para Pejabat yang memiliki hajat juga ada yang datang ke tempat ini. Namun dari kesemua itu, sebagai pengemban amanat revolusi mental sudah selayaknya Gunung Sagara dan Kampung Adat Jalawastu dipromosikan sebagai situs budaya. Apalagi akhir-akhir ini Presiden Joko Widodo sedang gencar-gencarnya mendukung gerakan literasi. Harapan saya pemerintah turut serta dalam mengkaji dan mengembalikan naskah-naskah asli Nusantara termasuk Naskah Gunung Sagara, meskipun hanya dalam bentuk salinan. Dan untuk Pemda Brebes yang sudah berjanji akan membangun jalan infrastruktur untuk menjangkau Kampung Adat Jalawastu dengan mudah segera dapat direalisasikan.

Di Jalawastu saya juga diberi rumus hidup bahwa memberi adalah menerima. Jika kita memberi tanah sebutir padi, maka ketika kita merawatnya dengan baik sebutir padi itu akan memberi segenggam padi. Rumus hidup yang sederhana. Persis seperti kesederhanaan orang-orang Jalawastu, yang tinggal di kaki Gunung Sagara jauh dari hiruk pikuk kota dan peradaban yang berkemajuan. Banyak orang mengaku beragama dan berkemajuan namun dalam peraktik hidupnya tetap saja terjerumus dalam sistem korup dan penuh manipulasi. Aki Daryono juga mengatakan kalau mau jadi orang jujur maka harus tinggal di tempat seperti ini, hidup apa adanya. Namun meskipun kehidupan di kota penuh dengan tipu muslihat harus tetap berusaha berpegang pada diri dan tujuan luhur akan hidup itu sendiri, karena inilah zamannya mau tidak mau harus dijalani.

“Cirebon Girang, Para Penjaga Lemah Kaputihan” merupakan pesan yang sangat nyata untuk dunia pendidikan, kehidupan beragama dan bernegara di negeri ini. Apalagi di bulan Mei terdapat Hari Buruh, Hari Pendidikan, dan Hari Kebangkitan Nasional. Banyak ajaran di masa lampau yang sudah kita nafikkan sebagai ajaran usang, padahal sangat mendasar sekali bahwa ajaran tersebut sesungguhnya sangat memperhatikan bagaimana manusia dan alam seharusnya saling bersinergi.

Dalam serial kartun Naruto, para Hokage berjuang setengah mati untuk mempertahankan desa, dan memberikan pelajaran kepada anak-anak untuk meneruskan estafet kepemimpinan. Jalawastu, Gunung Sagara memberikan sikap dasar sebagai seorang pribadi, sebagai seorang pemimpin harus mampu bersih hati dan bersikap jujur. Untuk mengakhiri tulisan ini mari renungkan arti syair dari lagu penutup kartun Boruto “Naruto Next Generation”. Kenapa tertarik dengan kartun Boruto? Sederhana saja, karena ceritanya mirip dengan kondisi perkampungan adat Sunda. Generasi yang lahir di sana begitu diperhatikan dan harus teguh memegang prinsip adat.

“Hey, kita bisa terus melangkah lebih jauh lagi kan? Hati yang terluka itu masih terasa perih. Membuat kita merasa tertekan. Tetapi tetap saja petanya kosong. Masih belum selesai, untuk mengetahui masa depan… Aaaaaaa… Menantang sesorang, menangis dan tertawa, Dreamy Johnny, aku akan pergi sejauh yang aku bisa. Meskipun aku merasa agak takut, Dremy Johnny… Satu persatu kebenaran terkuak. Aku akan membuktikannya di sini. Sekarang!”

“Ditampi Kujangna ku Bapak, hatur nuhun.”

Salam Sagara Manah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *