Hujan dan Emosi


Berkah Cah Angon mencintai senja, ia dicintai hujan. Setelah kurang lebih tiga minggu tanah tak diguyur hujan, di malam ketiga puasa rintik hujan turun dan awetnya hingga pagi menjelang.

Ada yang bilang awetnya seperti diformalin, ada juga yang bilang awetnya kayak jodoh yang tak kunjung datang. Harus sabar, meskipun hujan membuat tidur makin lelap dan banyak orang tergopoh-gopoh karena sahurnya kesiangan.

Apalagi yang masih sendiri, ibarat kata sudah jatuh tertimpa tangga, padahal rejeki tuh gak akan kemana. Tangganya udah ada tinggal bikin rumahnya … tereteteteng jadi deeh ular tangga. Ops… maksudnya, rumah tangga ding!

Sebenarnya di hari ketiga ini bukan lapar yang membuat puasa terasa berat. Emosi mulai diaduk-aduk oleh berbagai kepentingan. Kamu yang jomblo aja sering uring-uringan kan? Hayo, jujur aja deh?

Apalagi Bapak Presiden yang sedang memimpin Negara ini agar sesuai yang dicita-citakan UUD45, meskipun sudah di amandemen. Tapi yah memang kudu punya sabar yang gak asal Gebug, udah resiko kalau mau jadi Presiden, harus mendengar keluhan seantreo Negeri.

Sebelum mengulas rumitnya jadi Presiden. Mending berkaca seadainya punya satu orang istri dan dua orang anak sesuai anjuran Keluarga Berencana. Ingat loh ya baru satu orang istri, belum dua, tiga atau empat.

Misalkan anak pertama ingin sahur dengan rendang Minang, anak kedua pengen Coto Makasar, sang istri ingin sotong pangkong khas Pontianak. Apa ga pusing tuh jidat seorang kepala rumah tangga.

Ingat loh ya ini baru masalah menu makanan, belom ke baju lebaran, kue lebaran, interior rumah, dan besaran angpau yang harus dipersiapkan.

Beruntungnya jika seorang suami memiliki istri yang bisa bersinergi memecahkan masalah. Dan celakanya jikalau istri justru enggan mengikuti atau menindak lanjuti pemikiran-pemikiran suami. Apa tuh perabotan rumah seperti gelas, piring, mangkuk ga pecah melulu, panci-panci berterbangan penyok sana-sini.

Ini baru memikirkan urusan rumah tangga, belum urusan jomblo se-NKRI dan antek-anteknya. Bisa-bisa rudal Kim Jong Un lepas dari sarangnya.

Kondisi yang tidak enak ini diibaratkan kemarau panjang. Dan hujan selalu jadi penyejuk, kemarau setahun dihapus hujan sehari. Kemarau yang gersang penuh debu dan panas, kondisi yang cukup pelik bagai jomblo yang kebanyakan mengeluh sampai lupa bersyukur kalau masih dikasih kebebasan buat memilih pasangan hidup.

Nah orang yang berpuasa keinginan nafsunya dibatasi. Yang biasanya asik menggunjing harus diem kaya rambu-rambu lalu lintas. Yang biasanya sibuk liat konten syur salala x file, harus gerah tiap hari dijejali ceramah.

Apa ini bukan kemarau yang cukup menguras emosi? Hawa nafsu dikekang, sabar ngga tuh? Yang ada es mosi esmosi emosiiii teruuus! Sabar…

Coba perhatikan anak kecil yang baru belajar puasa. Dari subuh sudah mengumpulkan makanan untuk berbuka. Tiap jam bertanya bedug dzuhur masih lama yah? Belom lagi kalau lihat anak lain yang tidak puasa. Emang enak kalau jadi emak-nya tuh anak?

Saking beratnya beban emak, makanya sering sen kanan belok kiri. Emak-emak cukup berat tanggung jawabnya. Cobak ajah bapak-bapak sehari ajah jadi emak-emak, enak ngga tuh kalo pas PMS. Jadi kalau ada laki-laki yang tiap hari emosian, jangan-jangan lagi PMS.

Gara-gara emosi jadi ngelantur kesana-kemari. Ramadan itu ibarat hujan yang menggemburkan hati keras. Wajar jika di sepuluh hari pertama biasanya emosi meledak-ledak, sebagai penyusaian dari hawa nafsu yang sedang dikekang.

Jika lulus di sepuluh hari pertama mencerna Nur Illahi, maka di sepuluh hari ke-2 akan lebih rilex. Terbukti kan bukan hanya tempat pijit aja yang bikin rilex?

Ukuran kejantanan seorang lelaki bukan diukur dari otot yang dibentuk, tetapi pada banyak setok sabar di dalam hatinya. Bukankah begitu Bapak Presiden Joko Widodo, saat adu panco dengan Mas Kaesang?

Buktinya baru-baru ini pria-pria berotot dirazia dari sebuah tempat karena melakukan kegiatan yang menurut hukum Islam sih jelas menyimpang. Entah kalau menggunakan hukum yang lain. Sah-sah saja kali ye menyalurkan emosi, sesama jenispun jadi. Naudzubillah…

Ah hujan, andai saja mampu membasuh segala kebencian.Emosi mengalirlah ke samudra cinta-Nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *