Dari “Gunung Kawi” ke “Surga Yang Tak Dirindukan”

Perayaan Hari Film Nasional (HFN) tahun 2017 yang bakal diperingati tanggal 30 Maret mendatang oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Perusahaan Film Nasional mengangkat tema “Merayakan Keberagaman Indonesia”. Jika tahun lalu tema yang diusung adalah “Film Indonesia Adalah Kita”, namun untuk tahun ini panitia beralasan, (Dari keragaman yang terkandung dalam film-film, kita bisa melihat Indonesia kecil). Begitu yang disampaikan sutradara cum Ketua HFN 2017 Lasja F. Susatyo seperti dikutip beritagar.id. Lasja menambahkan, “Jadi, bukan semacam ingin menyampaikan bahwa kita hidup di bawah pelangi dan semua baik-baik saja. Masing-masing dari film itu punya masalah dan memiliki cara untuk mengatasinya.”

Bicara soal film, saya teringat masa kecil dahulu. Sebagai Generasi 90-an #ehm, kami anak-anak kecil pada era itu sering menonton film yang diputar melalui VHS player secara beramai-ramai. Khalayak umum sering menyebutnya video kaset.   Menariknya, kami menyaksikan film itu hanya ketika ada tetangga yang hajatan saja. Karena layar tancap keliling kalau disewa untuk acara hiburan di tempat hajatan masih cukup mahal, bioskop juga hanya ada di kota kecamatan, maka video kaset seringkali dijadikan hiburan alternatif, menjadi pesaing hiburan seni pertunjukan seperti Jaipongan, Wayang Golek, Dangdut, Tarling, Wayang kulit, Lengger. Video kaset menjadi cukup populer bagi kalangan anak-anak pedesaan pada kurun waktu 1990 hingga tahun 2000. Untuk menonton video tak jarang harus berjalan kiloan meter ramai-ramai dengan teman sebaya. Apesnya jika di perjalanan ada pohon rambutan yang sedang berbuah dan sudah matang tak ayal menjadi sasaran kenakalan, maka dari itu sekarang muncul meme “masa mudamu belum lengkap kalau belum pernah maling buah tetangga”. Bermodalkan sarung yang diikat namun isinya penuh dengan rambutan, melengganglah dengan penuh semangat untuk melihat aksi Dono, Kasino, Indro, Barry Prima, Advent Bangun, Rhoma Irama, Didi Petet, Mariam Bellina, Kiki Fatmala, Suzzanna, Bokir, Sally Marcelina, Inneke Koesherawati dan masih banyak lagi artis lainnya.

Era VHS kemudian bergeser ke era Laser Disc, dimana kualitas gambar dan suara semakin bagus. Laser Disc kebanyakan memutar film-film impor seperti salah satunya Film Terminator yang begitu populer mempertontonkan kemajuan teknologi robot yang bertarung dengan makhluk manusia besi meleleh… (dibaca pake logat timor) Meskipun sudah hadir laser disc, VHS tetap masih bertahan karena film-film Indonesia yang kami tonton saat itu seringnya sih film Warkop DKI. Tokoh Warkop DKI masih asli, Dono, Kasino,  Indro, belum reborn seperti yang waktu lalu baru tayang di bisokop. Oh iya, selain film Warkop DKI juga ada lagi sih film-film yang lain. Seperti film hantu Suzzanna, Malam Jumat Kliwon (1986), Malam Satu Suro (1988) Titisan Dewi Ular (1990) dan film laga dengan bintang utama aktor kawakan Barry Prima dalam film berjudul Jaka Sembung dan Bergola Ijo (1985), Golok Setan (1985), Panther (1995). Asyik bener deh kalo inget-inget lagi cerita waktu itu nonton film sembari makan kacang rebus, belajar ngerokok dan makan buah rambutan hasil operasi ditambah ikut ngerubung judi koprok dadu. Masa indah kanak-kanak tanpa gajet, tanpa buzzer, dan pertengkaran yang tak berkesudahan di media sosial. Wajar kalau banyak orang rindu zaman itu, yang katanya serba penaak?

Kurun waktu 1990 hingga pasca reformasi menjelang tahun 2000 kondisi perfilman Indonesia sebetulnya mati suri, banyak bioskop di kota kecamatan tutup. Minat penonton ke bioskop menurun juga dipengaruhi hadirnya televisi sewasta, parabola, VHS, Laser Disc hingga munculnya VCD dan DVD. Saat produksi film Indonesia berkualitas menurun, kurun waktu tahun 1990 hingga tahun 1997 juga muncul film-film yang mempertontonkan adegan erotis seperti Gadis Metropolis (1992), Ranjang yang Ternoda (1993), Pergaulan Metropolis (1994),  Gairah Terlarang (1995), Akibat Sex Bebas (1996), dan Gejolak Seksual (1997). Selain film-film tersebut ada juga Si Kabayan Saba Metropolitan (1992), serial Saur Sepuh yang lekat dalam ingatan saya. Masih di era yang sama, film bertema komedi melalui grup lawak Warkop DKI pun sempat mewarnai perfilman Indonesia dengan puluhan judul. Namun yang menarik adalah film horor Suzzanna yang di dalamnya dibumbui oleh adegan-adegan berbau seks nan erotis yang mampu bertahan sejak era 70-an. Para pelaku film melakoni adegan seks ternyata bukanlah tanpa alasan, unsur erotis di era tersebut dimunculkan sebagai bentuk desakan terhadap pemerintah agar melonggarkan sensor terhadap film Indonesia seperti yang dilakukan terhadap film-film impor.

Lalu bagaimana dengan sekarang? Jika melihat judul-judul film yang menghiasi bioskop-bioskop di tanah air di era kiwari memang sudah bisa dikatakan bahwa film Indonesia cukup beragam. Selepas mati suri pada era 90-an hingga 2000, hadirnya Kuldesak (1998) hasil “keroyokan” para sutradara baru Indonesia, diperkuat oleh film musikal Petualangan Sherina (2000), Jelangkung (2001) hingga Ada Apa Dengan Cinta (2002) perfilman Indonesia perlahan mampu bangkit. Belum lagi rekor fantastis yang ditorehkan Riri Riza lewat Laskar Pelangi (2008) yang mampu merangsek hingga 4 juta penonton.

Kesuksesan film arahan Rudi Soedjarwo, AADC, rupanya memicu sineas lain untuk menggarap film-film dengan tema serupa cinta remaja. Sebut saja Eiffel, I’m In Love (2003), Cinta Pertama (2006), Love In Perth (2010). Hal tesrebut seperti mengulang tren positif pada era 80-an dimana film-film Indonesia cukup laris dan menghasilkan bintang-bintang film pujaan seperti Onky Alexander dan Meriam Bellina.

Geliat film Indonesia juga didongkrak oleh genre religi. Sebut saja Ayat-ayat Cinta dan Ketika CInta Bertasbih yang diadaptasi dari novel karya Kang Abik (Habiburrahman El Shirazy). Perempuan Berkalung Sorban karya Hanung Bramantyo yang sempat memicu kontroversi karena mengkritisi tradisi Islam konvensional yang masih dijalankan di berbagai daerah di Indonesia. Nilai-nilai konservatif dalam Islam dianggap mengekang kebebasan seorang perempuan dalam film ini. Ada juga Sang Pencerah, film yang menceritakan tokoh pendiri organisasi Islam Muhammadiyah K.H. Ahmad Dahlan. Tak ketinggalan film Soekarno yang terdapat dua versi hingga Sang Kiai, film yang mengangkat kisah seorang pejuang kemerdekaan sekaligus salah satu pendiri Nahdlatul Ulama K.H. Hasyim Asyari.

Berhasil mendapatkan momentum titik balik di awal tahun 2000-an yang ditandai dengan jumlah penonton yang membludak tadi justru tak dibarengi dengan kualitas yang dihasilkan. Film-film bertema horor seks kembali menghiasi bioskop-bioskop di Indonesia. Judul-judul seperti Tali Pocong Perawan, Suster Keramas dan Dedemit Gunung Kidul kembali ke puncak deretan film yang ditayangkan bioskop. Penonton yang tadinya mulai percaya kepada perfilman Indonesia kembali diuji di sini. Maka di titik ini perlu adanya penyaringan film-film yang akan akan masuk ke bioskop sehingga film-film yang tidak memenuhi syarat ketentuan tidak akan bisa lagi merusak kepercayaan masyarakat terhadap film Indonesia. Masyarakat cukup menyadari keberadaan film sebagai bukti eksistensi sebuah budaya. Terlepas dari kualitas sebuah film, apapun jenis dan bentuknya, film yang tayang di bioskop tetaplah hasil dari proses kreatif yang menyaring kehidupan sebuah bangsa untuk kemudian disajikan sesuai minat pasar dan sesuai kehendak pemodal. Dan sebagai bagian dari khasanah sebuah bangsa, film harus mudah diakses masyarakat luas bukan hanya film yang bisa dinikmati oleh kalangan menengah ke atas di bioskop tetapi pemerintah juga diharapkan mendukung komunitas-komunitas film indie yang bermunculan di berbagai daerah.

Di samping sebagai media komunikasi, film juga merupakan dokumen sosial, karena melalui film kita dapat melihat secara nyata apa yang terjadi di tengah-tengah masyarakat tertentu pada masa tertentu. Melalui film kita tidak hanya dapat melihat gaya bahasa atau mode pakaian masyarakat, tetapi bisa juga menyimak bagaimana pola pikir dan tatanan sosial masyarakat pada era tertentu. Film selalu menjadi cerminan masyarakatnya sekaligus menjadi harapan ataupun mimpi-mimpi besar akan kemajuan sebuah bangsa.

Misalnya, dalam film Gunung Kawi (2016) diceritakan si tokoh utama mengambil jalan pintas untuk menjadi kaya raya dengan cara pesugihan. Adegan dalam film ini mengambil latar cerita di kawasan Gunung Kawi. Gunung Kawi diceritakan menjadi tempat praktek pesugihan dan persekutuan manusia dengan makhluk gaib, letaknya di daerah Batu, Jawa Timur. Dalam banyak film, budaya Jawa selalu diidentikkan dengan horor dan mistik, padahal sebetulnya budaya Jawa sangatlah religius. Lawan dari film horor tentulah film drama religi, baru-baru ini tayang Surga yang Tak Dirindukan 2, film yang diangkat dari novel karangan Asma Nadia disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Lalu apakah yang tersirat dari Gunung Kawi ke Surga yang Tak Dirindukan? Inikah kenyataan kehidupan yang direkam lewat dua film yang menunjukan siapa penontonnya?

Sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan Hollywood. Jika kita amati, film-film Hollywood selalu bertema kemenangan atau kehebatan Amerika. Apapun jalan ceritanya, film Hollywood selalu memiliki akhir yang manis dan tak jauh-jauh dari hal-hal tersebut. Barat memandang “klenik” sebagai suatu teknologi yang belum mampu dijangkau, oleh karena itu mereka menciptakan sosok pahlawan semacam The Avengers untuk mengatasi hal-hal semacam ini. Sementara Indonesia masih saja terjebak pada pandangan bahwa klenik adalah mistisme makhluk halus. Miris karena masyarakat Indonesia justru malah mengerdilkan klenik hanya sebatas “dunia makhluk halus atau hantu dibalut dengan kehidupan penuh drama yang berliku-liku, wajar jika banyak mantan susah Move On, banyak orang blusukan tetapi ketika ada yang mempertahankan tanah penyangga sumber air dijadikan polemik berkepanjangan.

Baiklah, tahun 2016 menjadi kejutan bagi perfilman Indonesia karena terdapat 10 judul film yang meraih peringkat teratas dalam perolehan jumlah penonton. Di antara kesepuluh judul, hadirnya film komedi berhasil mencuri perhatian lewat My Stupid Boss dan Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! (Part 1). Buat saya, yang menarik justru Cek Toko Sebelah karya Ernest Prakasa. Tidak melabelkan diri sebagai film komedi murni, drama keluarga ini justru dibumbui komedi-komedi segar hasil celetukan khas para pemerannya yang kebanyakan adalah komika atau stand up comedian. Film ini juga mampu bertutur secara apa adanya dengan menghadirkan alur cerita dan konflik yang dekat dengan keseharian tanpa melebih-lebihkan.

Jadi sehoror atau semelow drama apapun kehidupan ini, yakinlah bahwa hidup ini sebetulnya adalah komedi, perjalanan yang jauh dari Gunung Kawi hingga menuju Surga yang Tak Dirindukan. Siapapun anda saya anggap belumlah penonton sejati jikalau tak mampu membawa makanan dari luar ke dalam gedung bioskop yang sarat dengan penjagaan ketat layaknya Kamp konsentrasi.