Mengubah Paradigma Pendidikan Dasar

Oleh: Ilham Handika, M.Pd *)

Nelson Mandela mengatakan pendidikan merupakan kekuatan utama yang bisa kau gunakan untuk mengubah dunia. Pendidikan ibarat kunci untuk mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Tanpa pendidikan yang berkualitas rasa-rasanya bangsa ini masih harus menjadi penonton di rumah sendiri. Peningkatan kualitas dan pemerataan kesempatan mendapatkan pendidikan yang layak merupakan suatu keniscayaan bagi bangsa ini jika tidak ingin tergilas oleh bangsa-bangsa yang lain.

Dalam sistem pendidikan nasional ada tiga jenjang pendidikan yaitu pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Jika sistem pendidikan nasional dengan tiga jenjang tadi diibaratkan sebuah rumah, maka pendidikan dasar merupakan pondasinya. Pendidikan dasar menjadi pondasi untuk jenjang pendidikan selanjutnya. Tidak akan ada pendidikan menengah atau pendidikan tinggi tanpa pendidikan dasar. Orang tidak akan bisa menjadi dokter, anggota TNI/Polri, politisi, dosen, atau profesi lainnya jika mereka tidak mengenyam pendidikan dasar. Jika ingin membangun  rumah yang kokoh dan mampu bertahan lama maka pondasi yang  kokoh merupakan suatu keniscayaan. Begitu pula dengan pendidikan, jika ingin mendapatkan sistem pendidikan yang kuat dan mampu bertahan dalam menjawab tantangan ke depan maka perbaikan atau  perubahan paradigma terhadap pendidikan dasar merupakan suatu hal yang sangat mendesak.

Perubahan paradigma yang dimaksud adalah segala macam kekeliruan-kekeliruan baik secara konsep maupun praktik terhadap pendidikan dasar. Secara konsep kesalahan mulai dari mendefinisikan pendidikan dasar, kesalahan dalam melihat peserta didik secara menyeluruh dan guru yang mengajar di pendidikan dasar. Dari segi praktik, dapat dilihat dari metode pengajaran yang berpusat pada guru, tidak ada inovasi-inovasi dalam proses pembelajaran, kesalahan lainnya dalam tata kelola pendidikan dasar mulai dari manajemen sekolah, guru dan peserta didik.  Selanjutnya mengapa hal ini mendesak? Banyak alasan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Sebut saja yang umum kita lihat di masyarakat bahwa pendidikan kita jauh tertinggal, dengan Malaysia saja yang dulu mengimpor guru dari Indonesia sekarang sudah jauh lebih baik. Ini dibuktikan dengan IPM malaysia lebih baik dari Indonesia.

Secara khusus dapat dijawab dengan makin besarnya tantangan ke depan yang akan dihadapi oleh bangsa ini, pendidikan yang merupakan pilar untuk mencerdasakan kehidupan bangsa saat ini jauh panggang dari api. Pendidikan dasar yang merupakan akar dari pendidikan kita harus di ubah cara pandangnya. Pendidikan dasar harus menjadi perhatian semua pihak. Jika pendidikan dasar sudah berkualitas maka dengan sendirinya permasalahan pendidikan di atasnya seperti pendidikan menengah dan pendidikan tinggi akan lebih mudah untuk diselesaikan.

Pendidikan dasar sejatinya adalah ruang bagi peserta didik untuk bermain, belajar menemukan dan mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya. Teori konstruktivisme menyatakan bahwa peserta didik sudah memiliki pengetahuan awal tinggal bagaimana pengetahuan-pengetahuan yang masih mentah itu dimatangkan oleh guru. Lebih tepatnya guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini, yang menjadi fokus perubahan paradigma adalah proses belajarnya. Kita, siapapun, tidak berhak mengagggap peserta didik adalah mereka yang tidak tahu apa-apa, sebagai guru jangan bersikap paling pintar dan menjadi sumber pengetahuan, ini kritik kepada guru-guru yang masih menggunakan cara mengajar seperti itu. Vygotsky dan Bruner lewat Zone of Proximal Development-nya dan Scafolding menyatakan bahwa peserta didik membutuhkan orang-orang disekitarnya untuk mengembangkan pengetahuannya. Lebih tepatnya menjembatani peserta didik dalam mencari dan menemukan solusi pada permasalahan yang dihadapi. Biarkan peserta didik berkreasi dan berpikir sendiri terlebih dahulu baru kemudian menemukan. Walaupun hal ini sepertinya sulit namun inilah awal untuk ke depan yang lebih baik.

Tanpa pendidikan dasar yang kuat dan berkarakter, bangsa ini akan mengalami pelapukan dari dalam. Generasi emas disiapkan sejak mereka masih mengenyam pendidikan dasar. Tinggalkan paradigma lama yang menganggap guru adalah segala-galanya dan peserta didik adalah objek dari pendidikan. Banyak orang yang menginginkan perubahan namun sedikit yang mau menjadi bagian dari perubahan itu sendiri.


*) Penulis merupakan Pengajar pada Program Studi Pendidikan Biologi
Universitas Samawa, Sumbawa Besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *