Harap Maklum Untuk Pelayanan Publik

Pada tahun 1979 Bang Haji Rhoma Irama  berucap, “Seratus tiga puluh lima juta jiwa penduduk Indonesia”.  Saya punya pemikiran kalau di zaman itu Bang Haji telah melakukan sensus penduduk Indonesia guna menghasilkan lagu tersebut, atau Bang Haji punya main dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Pusat untuk membocorkan jumlah penduduk Indonesia di tahun itu. Atau, mungkin juga justru Bang Haji mengarang bebas tentang populasi tersebut. Maklum saja, di tahun 1979 saya belum menjadi warga bumi, masih menjadi makhluk asing yang teramat aseng, eh, maksudnya asing (suka typo kalo inget mata kamu yang sipit bibir tipis rambut agak pirang, setelah stalking akunnya ternyata alumni pabrikan Thailand punya). Di saat itu belum ada Google yang bisa berbagi hoax dengan mudah, eh, berbagi data dengan mudah. Sudah tiga puluh tujuh tahun usia lagu itu. Dan, populasi penduduk Indonesia terus bertambah.  Menurut data yang dilansir oleh  Kementerian Dalam Negeri  jumlah penduduk Indonesia per 30 Juni 2016 adalah 257.912.349 jiwa.

Santai, populasi sekarang belum ada dua kali lipat dari jumlah saat Bang Haji Rhoma Irama merilis lagu tadi. Meskipun banyak data yang memaparkan kehidupan seks penduduk di negeri ini semakin meningkat, berbanding lurus dengan perilaku korupsi yang sudah mengakar di berbagai lini. Wajarlah jika pada akhirnya dibutuhkan proyek reklamasi untuk berbagai hunian, karena ternyata penduduk di negeri ini terus menggelembung jumlahnya seiring kesuksesan program Keluarga Berencana (KB). Sebaik-baik rencana adalah rencana Tuhan, bukan rencana pemakluman manusia untuk sesuatu yang terbaik namun bagi yang buruk. “Banyak anak banyak rejeki”, seharusnya dengan angka populasi manusia yang terus meningkat di Indonesia, Rupiah bisa terus menguat di mata Dollar, dengan banyaknya uang tentulah negara ini bisa dibangun dengan berdikari tanpa embel-embel pinjaman lunak.

Selain sebagai sebuah kekuatan, menggelembungnya populasi juga mempunyai segudang masalah. Wajar saja, dengan jumlah penduduk sebanyak itu akhirnya saya sering  menemui status curhatan teman-teman tentang buruknya pelayanan publik di daerah. Kicauan-kicauan itu, kiranya tiap hari bisa kita lihat di Twitter maupun Facebook (gak yakin? Stalking saja kawan-kawanmu) apalagi ketika kita ikutin akun “Lapor” milik pemerintah. Lah, dalah kebak! Dan entah bagaimana cara menyelesaikannya; masalah A belum beres, timbunan laporan sudah sampai Z. Gemesnya.., itu status bisa bermunculan setiap hari, detik dan jam yang berbeda pula. Tak ubahnya gosok gigi sehari tiga kali, jangan lupa di malam hari; anjuran iklan empeksodet.

Sekedar informasi hasil razia status mantan kawan, mantan musuh, dan mantan ahli agama. Para mantan, mengeluhkan akan pumbuatan e-KTP yang saat ini macet total. Kenapa mandek? Mungkin ada Si Komo lewat. Proses e-KTP hari ini membutuhkan waktu 6 bulan. Lah, modyar koen yang sudah terlanjur ngebet mau nikah, laik! Nikah dengan e-KTP sementara, dengan wujud selembaran kertas yang layak buat bungkus nasi kucing angkringan khas Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat.

Apa hanya e-KTP? Oh, tentu tidak! Urusan yang dipegang oleh Dukcapil semuanya mengalami turbulensi; Akta Kelahiran, Akta Kematian, Akta Perceraian, e-KTP, Kartu Keluarga. Itu tentang kependudukan dan kehidupan, semuanya terjun bebas, bebas sebebas-bebasnya hingga tidak bisa menentukan jadinya kapan. Berkas kependudukan semua manusia di negeri gemah ripah loh jinawi ini sudah menjadi bahan kebutuhan pokok, mau proses BPJS butuh e-KTP, bayar pajak motor, memperpanjang SIM butuh e-KTP. Tragisnya e-KTP yang dibutuhkan itu  pembuatannya saja antri 6 (enam) bulan.

Biar keliatan pintar, katanya biar beradab! Kalau saudara belum terkena azab dunia ikhwal urusan yang bersangkutan dengan e-KTP atau sejenisnya, Saudara bisa membacakan aturan main pelayanan publik. Nyoh…  Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik:

“Negara berkewajiban melayani setiap warga negara dan penduduk untuk memenuhi hak dan kebutuhan dasarnya dalam kerangka pelayanan publik yang merupakan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, membangun kepercayaan masyarakat atas pelayanan publik yang dilakukan penyelenggara pelayanan publik merupakan kegiatan yang harus dilakukan seiring dengan harapan dan tuntutan seluruh warga negara dan penduduk tentang peningkatan pelayanan publik, sebagai upaya untuk mempertegas hak dan kewajiban setiap warga negara dan penduduk serta terwujudnya tanggung jawab negara dan korporasi dalam penyelenggaraan pelayanan publik, diperlukan norma hukum yang memberi pengaturan secara jelas, sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas dan menjamin penyediaan pelayanan publik sesuai dengan asas-asas umum pemerintahan dan korporasi yang baik serta untuk memberi perlindungan bagi setiap warga negara dan penduduk dari penyalahgunaan wewenang di dalam penyelenggaraan pelayanan publik”.

Saya kira, itu pedoman sudah tidak layak pakai, harus segera dibumihanguskan.  Kasihan, para praktisi kebijakan undang-undang. Nanti kelihatan salah terus. Padahal, dia juga manusia biasa. Ya, endak, manusia biasa. Cerita di atas sudah terlalu aneh. “Basi”, tidak layak untuk kita resapi, semua pengguna jejaring sosial sudah sampai muntah kuning mendapatkan bacaan seputaran itu. Sik, tak mikir disik, sing apik opo. Dyaarrr…! Kapokmu kapan.

Belum lama ini, seorang penulis kondang, yang layak menyandang gelar LC (Lulusan Cairo), di belakang namanya mengalami hal agak sial yang berkaitan dengan perbankan, sebut saja Bank Mandor (sengaja tidak disebutkan nama bank itu karena ini bukan tulisan berbayar). Sebuah bank milik Negara yang lolos ISO dalam pelayanan publik dan mendapatkan penghargaan pula. Sang penulis udah antri dari pagi di suasana bank yang sejuk dan harum, tentunya. Dengan hiasan para mantri bank yang berpakaian menggoda lelaki mata keranjang, ala-ala pramugari yang anggota FPI pun kebelet untuk bisa selfie bareng. Manusawi , kalau laki-laki tertarik dan kagum melihat perempuan yang berpenampilan menarik, menarik mata untuk bereksplorasi dan berimajinasi. Dalam penantian, sampailah pada nomor urut 24 yang dimana penulis kondang ini mendapat nomor antrian 25. Sambil harap-harap cemas, mungkin sudah ndak sabar mau apply kartu kredit biar bisa ikutan Pre Order hape pinter Samsul Galaktikos S8 dengan cicilan tenor dua belas bulan di sebuah marketplace kondang Lajadut. Duh, dek… Atine kang mas keronto-ronto. 1 jam 29 menit berlalu hanya untuk menunggu satu orang! Nomor urut 24 tak jua menyelesaikan urusannya. Tidak terimalah sang penulis, berkobar air mata mudanya, sambil bernyanyi lagu Darah Juang di dalam hati tentunya. Ia beranjak dari tempat duduk.

“Kang mas yang terhormat, apakah masih lama?” Dengan penuh harap sang penulis menantikan jawaban. “IYA, masih lama. Mau apa?” Astaga. Kempyar embun-embunan. Ditaruh lah nomor urut 25 di depan mata sang mantri, lalu penulis kondang tidak jadi lihat nilai transferan. Pulang sambil berucap “Alhamdulillah Ya Tuhan.. Hari ini Kau memberiku ilmu SABAR”.

Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman, karena segala perkaranya adalah baik. Jika ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur kerana (ia mengetahui) bahwa hal tersebut adalah memang baik baginya. Dan jika ia tertimpa musibah atau kesulitan, ia bersabar karena (ia mengetahui) bahawa hal tersebut adalah baik baginya. (Hadis Riwayat Muslim)

Kalau saya yang jadi penulis kondang itu, sudah tak cipok itu mas-mas CS. Lah ditanya tentang masih lama malah jawab, “IYA, masih lama, mau apa?” Lah dengkul si CS ini terbuat dari beton apa yah? Masih pakai tanya mau apa? YA JELAS MAU NGAPELIN KAMU LAH! Sambil terngiang-ngiang suasana ruangan bank dan kemungkinan besar kasihan pada nomor antrian yang lain. Tidak lama setelah kejadian itu, sang penulis bikin status di Facebook, menceritakan segala keresahan dan perasaannya yang gundah gulana. Di luar status penulis T.O.P itu, ada komentar asik dari kawan sesame penulis “Kalau di bank B*I  ngantri satu nomor antrian sampai 2 jam udah biasa, Mas.” Waladalah! 2 jam untuk satu nomor antrian? Bajiguuur! Sekelas tempat pijat saja cuman 90 menit. Masak, pelayanan bank Samapi 120 menit? Duh, ngapain saja itu orang. Mungkin, kalau pijat bisa nambah pijat yang khusus-khusus. Lah ini di bank, masak bisa ngasih pelayanan ++ (baca: plus-plus). Astaga….

Ketika tulisan ini Saudara baca, berkat curhatan penulis T.O.P yang berhak akan gelar LC tadi. Pihak bank melalui pimpinan cabangnya sudah minta maaf atas kejadian tersebut, petugas CS pun minta maaf sambil menangis, mungkin selepas nonton film Korea yang super romantis dan bikin baper. Nah.. agar pelayanan publik di negeri ini menjadi lebih bagus cobalah belajar pada hokage ke-8 dalam serial kartun Naruto. Karena hokage dari masa ke masa bertanggungjawab melindungi desa dan klannya, bukan malah sebaliknya, menjualnya ke korporasi yang nyata-nyata hendak merusak lingkungan.

Semoga Tuhan memberkati. Tabik…

Salam Koperasi (Korps Pecinta Randa Anak Siji)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *