Guru Cantik

Guru –­digugu lan ditiru, istilah yang familiar dimengerti sebagai penjabaran kata guru. Namun kiranya istilah ini perlu dikoreksi lagi, mengingat kompleksnya permasalahan yang ada pada sistem pendidikan di negeri ini. Dimulai dari kurikulum yang berganti-ganti, sarjana pendidikan yang masih banyak menganggur, sampai kesejahteraan guru honorer yang belum juga diperhatikan.

Disini kita tidak akan membahas itu semua, biarkan para kritikus-kritikus pendidikan dan pejabat yang berkepentingan saja yang mencari penyelesainnya. Toh Pak Anies yang lahir di dunia pendidikan pun memilih menjadi Gubernur pada akhirnya, setelah tereliminasi sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Sedikit saja yang akan kita akan bahas dari sekian banyak permasalaan di dunia pendidikan, yaitu fenomena yang sedang marak di dunia maya, khususnya di media sosial. Bukan! Ini bukan kisah Cak Budi yang beli Aipon dan mobil Portuner pake dana hasil sumbangan para donatur yang, katanya sih buat cekrek-cekrek dokumentasi dan mendukung kegiatannya sebagei penggalang dana bantuan itu. Padahal kan bisa pinjem hengpon jadul punya Minceu.. Hehehe… Tapi ini cerita soal dua kubu yang rebutan akun gosip di Instagram yang rame dibahas baru-baru ini, lho! Oh, mohon maap. Bukan juga ternyata.. Pada kesempatan yang berbahagia ini kit akan mengulas tentang #gurucantik. Seorang guru mendapatkan nilai lebih ketika wajahnya instagramable meskipun terkadang pola mengajarnya biasa-biasa saja.

Seorang guru tidak lagi dilihat dari bagaimana metode ia dalam mengajar dan hasil akhir dari pembelajarannya, namun sejauh mana dia bisa fotogenik dan berperan ganda sebagai SPG dari yayasan yang menaungi sekolahannya, tidak jauh dari poster-poster promosi sekolah yang meperlihatkan siswa didiknya yang cantik dan tampan, daripada memperlihatkan kenyataan yang ada di baliknya (bahwa siswa tersebut sudah lulus atau mau lulus). Kembali ke laptop..! (Lupa, acaranya udah lama bubar..) fenomena guru cantik bisa menjadi oase di tengah semrawutnya pendidikan, tetapi tidak bisa juga jika hal tersebut dijadikan solusi. Hal ini bahkan menjadikan lulusan pendidikan dengan jenis kelamin lelaki menjadi kurang diminati, lantaran sekolah lebih memilih seorang guru yang berparas cantik meskipun kemampuannya rata-rata.

Guru yang sudah lebih lama mengabdi posisinya sedikit demi sedikit tergusur oleh guru baru yang berparas lebih menarik. Apakah hal ini menjadi permasalahan? Secara tidak langsung fenomena ini membawa dampak yang sangat besar bagi dunia pendidikan. Dampakanya adalah bergesernya prioritas pendidikan yang seharusnya pada peningkatan aspek kualitas seorang pendidik, bergeser pada aspek menarik atau tidaknya tampilan seorang pendidik. Para siswa pun lama kelamaan akan lebih memilih guru yang menarik untuk dilihat, daripada guru yang lebih profesional.

Di luar itu semua, hal yang paling ironi dari fenomena #GuruCantik adalah pubertas dini bagi siswa laki-laki di dunia pendidikan. Dengan semakin menjamurnya media sosial dan kemudahan akses internet, para siswa tidak lagi disibukkan oleh pelajaran dan kegiatan sekolah, tetapi mereka bakal lebih sering kepostalking dan berlomba-lomba mendapatkan perhatian lebih dari guru cantik di sekolah mereka. Pihak sekolah tidak bisa memandang ini sebuah efek, karena efek sampingnya secara jangka pendek tidak begitu kentara. Namun secara moralitas, pergeserean nilai akibat fenomena #gurucantik lebih banyak membawa dampak negatif ketimbang dampak positifnya, ketika tidak ada inisiatif dari sang guru cantik untuk ikut mengedukasi bahwa penampilan menarik itu penting tetapi yang lebih penting lagi adalah profesionalisme sebagai seorang tenaga pendidik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *