Fiqh Ramadan

Saudaraku yang dirahmati Allah,

Kemarin kita telah membahas mengenai Jenis-jenis Persiapan yang Sebaiknya Dilakukan Menjelang Bulan Ramadan. Jika sobat belum sempat membacanya, Redaksi Hanacaraka menyarankan agar terlebih dahulu membaca tulisan tersebut di sini.

Pada kesempatan kali ini, akan kita lanjutkan kembali pembahasan kedua dalam rubrik khusus di bulan Ramadan. Adapun yang bakal dibahas kali ini adalah Fiqh Ramadan. Tanpa berlama-lama lagi, selamat membaca…

I’tikaf
I’tikaf adalah menetap di masjid untuk beribadah kepada Allah yang dilakukan dengan tata cara yang khusus.

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” – HR. Bukhari No. 2044 –

Ketentuan i’tikaf:
1) i’tikaf harus dilakukan di masjid;
2) wanita boleh beri’tikaf dengan syarat: (a) meminta izin suami dan (b) tidak menimbulkan fitnah yakni menutup aurat dengan sempurna dan tidak memakai wewangian.

Para ulama sepakat bahwa i’tikaf tidak ada batasan waktu maksimal dan minimalnya, artinya boleh meskipun hanya sesaat di malam atau di siang hari atau hingga beberapa hari dan malam.

Yang membatalkan i’tikaf misalnya, keluar masjid tanpa alasan syar’i dan tanpa ada kebutuhan mubah yang mendesak.

Yang dibolehkan ketika i’tikaf adalah: keluar masjid disebabkan ada hajat yang mesti ditunaikan seperti keluar untuk makan dan minum, melakukan hal-hal mubah seperti mengantarkan orang yang mengunjunginya sampai pintu masjid, bercakap-cakap dengan orang lain, istri mengunjungi suami yang beri’tikaf, mandi dan berwudhu di masjid, dan membawa kasur untuk tidur di masjid.

Adab I’tikaf, Hendaknya ketika beri’tikaf seseorang menyibukkan diri dengan melakukan amaliyah seperti berdo’a, dzikir, bershalawat, mengaji Al Qur’an dan mengkaji hadits, membaca buku-buku Islami, mendengarkan ceramah, dll.

Tadarus
Membaca Al Qur’an sangatlah dianjurkan untuk mengisi waktu di bulan Ramadhan. Sebab Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Quran.

“Bulan Ramadan yang di dalamnya (mulai) dirurunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan yang nyata yang menunjuk kepada kebenaran, yang membedakan antara haq dan bathil.”   (Al-Baqarah: 185)

Ketika membaca Al-Qur’an, maka seorang muslim perlu memperhatikan adab-adab berikut ini untuk mendapatkan kesempurnaan dalam membaca Al-Qur’an:

  • Membaca dalam keadaan suci, dengan duduk yang sopan dan tenang;
  • Membacanya dengan pelan (tartil) dan tidak cepat, agar dapat menghayati ayat yang dibaca;
  • Membaca Al-Qur’an dengan khusyu’, dengan menangis, karena sentuhan pengaruh ayat yang dibaca bisa menyentuh jiwa;
  • Membaguskan suara;
  • Membaca Al-Qur’an dimulai dengan isti’adzah (membaca ta’awudz). Adalah sangat dianjurkan untuk mengkhatamkan Al Quran di Bulan Ramadhan, Hal Ini dicontohkan langsung oleh Nabi. (HR. Bukhari: 4614)

Zakat Fitrah

Zakat fitrah / fitri adalah zakat yang diwajibkan karena berkaitan dengan waktu ifthar (tidak lagi berpuasa) dari bulan Ramadhan.

Hikmah zakat fitrah adalah: untuk berkasih sayang dan memberikan suka cita kepada orang miskin, serta membersihkan kesalahan / dosa.

Zakat Fitrah ditunaikan oleh: 1) setiap muslim 2) yang mampu mengeluarkan zakat fitrah.

Menurut mayoritas ulama, batasan mampu adalah mempunyai kelebihan makanan bagi dirinya dan yang ditanggung nafkahnya

Bentuk zakat fitrah adalah makanan pokok seperti kurma, gandum, beras, dan semacamnya dengan kadar satu sho’. Ukuran satu sho’ jika diperkirakan dengan ukuran timbangan adalah sekitar 3 kg atau 2,157 kg. Artinya zakat fitrah yang dikeluarkan 2,5 kg seperti kebiasan di Indonesia sudah dapat dianggap sah.

Ulama Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat bahwa tidak boleh menyalurkan zakat fitrah dengan uang. Sedangkan ulama Hanafiyah membolehkannya.

Zakat fitrah disalurkan pada 8 golongan: fakir, miskin, riqab, gharim, mualaf, fisabilillah, ibnu sabil, dan amil zakat. (At Taubah: 60)

Waktu pembayaran zakat fitrah ada dua macam: (1) waktu utama yaitu mulai dari terbit fajar pada hari Idul Fitri hingga dekat waktu shalat ‘Ied; (2) waktu yang dibolehkan yaitu sejak awal bulan Ramadhan. Namun dikarenakan zakat fitrah berkaitan dengan waktu Idul Fitri, maka menjadi kurang pas bila diserahkan jauh hari sebelum ‘Idul Fitri.

Lailatul Qadar

Lailatul qadar adalah malam yang penuh dengan kemuliaan dan keberkahan.

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat

Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai

terbit fajar.” (Al Qadr: 3 – 5)

Lailatul Qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir, utamanya di malam-malam ganjil di bulan Ramadhan.

Rasulullah bersabda, “Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan.” (H.R. Bukhari No. 2017)

Terdapat beberapa tanda-tanda malam lailatul qadar seperti yang disebutkan dalam beberapa hadits seperti:

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda, “Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan. ” – H.R. Al Baihaqi

Akan tetapi, kebanyakan tanda muncul setelah malam itu terjadi, sehingga kurang perlulah mencari-cari tanda lailatul qadar. Yang mesti dilakukan adalah memperbanyak ibadah di sepuluh malam terakhir.

Sudah sepantasnya seorang muslim mencontoh Rasulullah dalam menyambut malam lailatul qadar dengan lebih giat beribadah: menghidupkan malam dengan shalat, dzikir, tilawah, i’tikaf, dll.

Aisyah R.A. berkata, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang mesti aku ucapkan saat itu?” Beliau menjawab, “Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).” – Muttafaq ‘Alaih –

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *