Dongeng Negeri Setan

Berdiri memperhatikan deret naskah buhun nan lusuh di dalam almari yang menyerupai rak buku. Daun pintu almari berdebu. Ketika almari dibuka, yang terdengar hanya suara derit daun pintu almari usang menyerupai gesekan senar biola. Buku-buku saling-silang bertumpuk tak beraturan. Buku-buku  kesepian. Kutemukan sebuah catatan/ diktat berisi 123 halaman yang tersusun. Kuperhatikan dan Kubaca judul dan sub judulnya: Beralihnya Pulau Jawa Dari Agama Sanghiyang Kepada Agama Islam–Manusia Pertama Penghuni di Jawadwipa (Pulau Jawa). Penyusun: Pangeran Sulaeman Sulendraningrat (1978), seorang Rama Guru Peguron Caruban Krapyak Kaprabonan Cirebon. “Hm #ehm …, mungkin diktat ini salah satu catatan sejarah, sebagai telisik selubung misteri kisah-kisah terdahulu yang tersebar di Cirebon”. Pikirku sambil membuka halaman pertama. Deg! aku terkesiap seusai  membaca beberapa paragraf di halaman berikutnya. Masih lekat dalam ingatan tentang sebuah dongeng yang pernah kakek kisahkan  ketika tititku belum disunat. Titit yang belum berlumur dosa tentunya.

“Cucuku, yang kakek ceritakan ini bukan kisah tentang nestapa nusantara tapi soal awal mula manusia pertama di Pulau Jawa. Manusia pemburu ribuan lintang. Tetap gelap  meski didapat ribuan bintang. Tapi dengan satu rembulan jadi benderang. Manusia hewani tiap malam purnama tiba selalu muncul di permukaan bumi. Mereka tahu betul pada saat purnama, ketika cahayanya mampu memudarkan ribuan bintang. Sebelumnya, mereka tak pernah letih berusaha mengatur kerlip bintang-bintang di langit agar tetap bercahaya. Tapi nihil dengan satu rembulan yang benderang. Yang di dapat adalah jerat-jerat involusi peradaban yang pedih”.

Jadi begini: Kisah berawal pada permulaan  Masehi. Pulau Jawa ketika itu masih kosong dari mahluk yang bernama manusia. Jangan coba tanya Raisa dan Isyana ada dimana, meskipun memang sosok Isyana sudah ada dalam wujud yang lain. Atau mungkin benih saripatinya ada terjaga disudut Tanah yang entah dimana.

Sejauh mata memandang, yang nampak hamparan belukar dan gunung-gunung yang sangat perkasa. Hanya sekumpulan hewan buas kalapurba. Para demit, iprit, marakayangan, jin, bangsa lelembut, brakasakan, gendruwo, wewe gombel, banaspati, ilu-ilu, janggitan, kemangmang, dan lain sebagainya sebagai pribumi dan penghuni asli Pulau Jawa. Namun, Drakula dan Vampire  tidak tertulis dalam diktat itu apalagi pocong, kuntilanak, sundel bolong, suster ngesot, nenek dan kakek gayung, dan setan-setan selebritis lainnya-bahkan Nyi Roro Kidul sekalipun.

Malam merambat. Raja dari Rum Asia (sekarang Turki) mendapat wangsit dalam mimpinya untuk mencari Pulau Jawa. Setelah berdiskusi dengan para menteri dan konsultan ahli ini-itu, sang Raja memerintahkan kepada Kian patihnya untuk mengumpulkan dua puluh ribu pasutri agar bertransmigrasi ke Pulau Jawa sebagai bibit manusia pertama. Dua puluh ribu pasutri di dapat dan diberangkatkan ke Pulau Jawa. Dalam hitungan minggu, setelah rombongan menetap di Pulau Jawa, pribumi resah dengan tingkah polah para pendatang dianggap tidak beradab dengan merusak fasilitas kehidupan masa depan mereka. Pribumi murka. Dari dua puluh ribu pasutri, yang tersisa empat puluh orang yang berhasil  pulang ke rajanya. Sisanya jadi santapan pagi, siang, dan malam penghuni asli Pulau Jawa. Yang jelas bukan santapan ruhani ala ustad di televisi.

Raja Rum kecewa dan marah. Kemudian memerintahkan kembali Kian Patihnya untuk mengirim konsultan spiritual kerajaan yang bernama Syekh Subakir memimpin dua puluh ribu pasutri asal Keling kembali berlayar ke Pulau Jawa. Tidak hanya konsultan spiritualnya yang diperintah untuk melakukan agresi. Kian Patihnya pun disertakan untuk ikut dalam rombongan dan menetap di Pulau Jawa.

Tahun I.k. 87 Masehi rombongan manusia kloter kedua tiba di Pulau Jawa. Panjang cerita–pada tahun I (satu) Babad Zaman Jawa/I Anno Jawa. Syekh Subakir berhasil memasang tumbal di puncak gunung Tidar. Dan puncak gunung-gunung lainnya di Pulau Jawa. Seusai tumbal tertanam di setiap gunung, tak lama terjadi bencana maha dahsyat. Lebih hebat dari Tsunami. Hujan maha lebat, Gunung-gunung runtuh, petir menggelegar bersahutan. Pulau Jawa porakporanda. Gulita. Peteng dedet.

Pulau Jawa geger-panik. Seluruh lelembut, jin, setan, banaspati, ilu-ilu, janggitan, kemangmang, wewe gombel, iprit, merkayangan berhamburan tunggang-lenggang menuju laut. Sedangkan genderuwo pergi tanpa karna. Siluman-siluman pergi cari aman. Setelah itu Pulau Jawa bisa dibilang kondusif dan layak huni sebagai tempat tinggal manusia. Setelah itu tersebut dua tetua — Sanghyang Semar dan Sanghyang Togog, bersidikuh di hutan gunung Merbabu. Mereka berdua berdiskusi menyoal kejadian super hebat yang terjadi.
“Kakak, apa yang terjadi?” Tanya Semar kepada Togog
“Aku tidak tahu, terserah engkau saja” jawab Togog
“Hm, lhadalah… ini akibat kedatangan seorang pandita dari negeri Rum yang telah menginnvasi Pulau Jawa untuk merusak alam dan mengusir para dedemit dengan tumbal-tumbal yang ditanam di puncak gunung-gunung. Mari kita menuju TKP dan menjumpai sang pandita utusan Raja Rum untuk klarifikasi dan meminta pertanggungjawabannya
“Jangan terlambat sebelum jagat benar-benar gelap. Kita jumpai pandita”
Semar, Togog pun bertemu dengan Syekh Subakir-sang pandita, konsultan spiritual dari kerajaan Rum.

“Sesungguhnya aku bukan manusia. Aku adalah Raja Dahyang (Jan) tanah Jawa. Aku Dahyang Sepuh, titisan dari Jengkawa Dewi (Babu Hawa) yang berdosa. Aku juga Manikmaya, Sanghyang Nurcahya, Sanghyang Wenang, Sanghyang Srigati, Wargutama, Raja Jaya Kusuma, Ki Jaka Pandak, Sanghyang Ismaya. Pandita boleh memanggilku dengan sebutan Semar. Sejak aku masih benih, telah diambil Idajil, kemudian bermetaforfosis menjadi aku. Para dewa adalah darahku. Semua Dahyang di penjuru tanah seberang dan Jawa adalah keturunanku. Seluruh lelembut (bangsa astral) adalah juga cucuku. Jin, iprit, dedemit, ilu-ilu, genderuwo, bergola, dan semua yang kasat mata adalah cucu-cucuku” jawab Semar ketika Syekh Subakir bertanya

“Dan Anda siapa?” Tanya pandita kepada Togog

“Aku Togog-kakaknya Semar. Aku titisan Siti Sundari. Sejak lahir kami selalu bersama” jawab Togog singkat

“Apa maksud kedatangan kalian menemui saya?” Tanya sang konsultan spiritual lagi kepada Semar dan Togog

“Apa alasan Anda datang dan merusak Pulau Jawa dan membuat anak cucuku ketakutan dan mengungsi ke laut karena kesaktian Anda yang ampuh itu?” Togog menjawab

“Aku Syekh Subakir, konsultan spiritual Raja Rum. Aku diutus membawa dua puluh ribu pasutri untuk menetap di Pulau Jawa. Ini adalah karsa Hyang Widhi (Illahi). Kalian tidak berhak menghalang-halangi”

“Baiklah jika apa yang kalian lakukan atas dasar kehendak Hyang Widhi-demi kelanjutan kehidupan manusia di muka bumi. Asalkan kita bisa berbagi tempat” jawab Semar diplomatis

“Baiklah, tidak masalah!” jawab pandita bersemangat

Akhirnya kedua belah pihak mufakat berbagi tempat. Sejak itu pula praja-praja manusia dan praja-praja goib berbaur, bermasyarakat, saling bahu membangun ‘peradaban’ di Pulau Jawa.

Dongeng kakek bisa jadi sebagai interpretasi kebudayaannya tentang fragmen muasal manusia di Pulau Jawa. Itu benar atau tidak dalam tilikan ilmu (sejarah) memiliki tautan relevansi objektif dengan fakta historik? Atau sekadar imajinasi atau bahkan fantasi seorang yang memiliki kecintaan dahsyat terhadap asal usul dan sensitivitas etnisitasnya yang diurai dalam dongeng untuk meninabobokan cucunya, senarai rasa cinta yang mengalir serupa bah nalar yang tak bisa dibendung dengan pilihan kisah yang tak biasa dan hanya bisa dicerna setelah kita merenungkan kemana arah pesan yang dimaksud. Karena tidak mustahil dan muslihat dalam alam bawah sadaranya mengendap sebuah prakondisi intelektual: bahwa satu dongeng saja tidak cukup untuk mewadahi gagasan tentang sebuah “sejarah” yang dianggap tidak logis dan katrok, hanya sekadar mitos belaka dan selebihnya adalah cerita tentang masyarakat yang merindukan “sosok” yang bisa dijadikan sebagai rujukan ideologis-budayanya.