Mencari Bocah Angon

“Lir ilir, lir ilir, tandure wus sumilir. Tak ijo royo-royo. Tak sengguh temanten anyar. Cah angon, cah angon. Penekno blimbing kuwi. Lunyu-lunyu penekno. Kanggo mbasuh dodotiro. Dodotiro, dodotiro kumitir bedah ing pinggir. Dondomono, jlumatono. Kanggo sebo mengko sore. Mumpung padhang rembulane. Mumpung jembar kalangane. Yo surako surak iyo”.

Terjemahan dari tembang Kanjeng Sunan Kalijaga tersebut kurang lebih adalah: Bangunlah-bangunlah tanaman sudah bersemi. Begitu menghijau. Bagaikan gairah pengantin baru. Anak gembala, anak gembala. Panjatlah pohon belimbing itu. Walaupun licin dan susah tetaplah kau panjat. Untuk membasuh/mencuci pakaian. Pakaianmu, pakaianmu. Terkoyak-koyak dibagian samping. Jahitlah, benahilah. Untuk menghadap nanti sore. Mumpung rembulan bersinar terang. Mumpung banyak waktu luang. Bersoraklah dengan sorak iya.

Sembari melihat berita pilkada DKI, saya putar lagi dan lagi tembang Kanjeng Sunan Kalijaga di atas. Tiba-tiba semerbak harum melati menyeruak dari balik celah jendela, dan punggung saya terasa dingin. Setelah saya membuka jendela tidak ada siapa-siapa di luar, kecuali putih bunga melati bermekaran di pagar rumah dan angin kumbang menggoyang-goyangkan pucuk demi pucuk melati. Aroma melati membawa pikiran saya ke masa silam, lima tahun menjelang lengsernya Presiden Suharto, saya mengenal tembang “Lir ilir” sebagai tembang menakutkan beraroma hantu, dimana dalam syairnya terdapat “Kanggo sebo mengko sore” diartikan sebagai bentuk penyerahan tumbal bagi pelaku penyembah setan yang menginginkan kekayaan maupun kesaktian. Keyakinan saya akan horornya tembang “Lir ilir” diperkuat oleh cerita dalam sandiwara radio, jauh sebelum telenovela dan sinetron menjadi konsumsi hiburan rumah tangga.

Di tahun 1993, seorang pemuda di Brebes sudah melihat tanda-tanda akan jatuhnya Presiden Suharto, seperti dituturkan Wirya dan ternyata apa yang dikatakan pemuda itu menjadi kenyataan. Ini unik karena jelas pemuda yang mengatakan bahwa Suharto akan lengser itu bukanlah seorang seperti Allan Nairn, seorang wartawan investigasi yang baru-baru ini merilis berita tentang skenario menjatuhkan Presiden Joko Widodo. Wirya kembali menuturkan kepada saya bahwa pemuda tersebut kesehariannya hanya mengajari anak-anak mengaji disebuah mushola kecil kampung, membaca Al-Quran dan bertani menanam padi serta bawang merah. Di tahun 1993, juga muncul kasus besar terbunuhnya Marsinah seorang buruh perempuan dimana kasus ini menjadi cambuk, api penyemangat perlawanan para aktivis, seorang Budiman Sudjatmiko lebih senang menyebutnya sebagai “Anak-anak Revolusi”, para aktivis 98 yang akhirnya memukul mundur kekuatan politik Suharto hingga lengser dari jabatan Presiden. Kasus besar menjelang lengsernya Presiden Suharto yang tak kalah hebohnya adalah korupsi triliunan Eddy Tansil (Tan Tjoe Hong). Eddy Tansil menghilang (Duitnya mungkin buat melengserkan Suharto, ah ada-ada saja, ah masa iya sih wkwkwk ini pasti hoax mugholadoh) yang pasti Suharto lengser akibat banyak kasus KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) serta banyaknya aktivis hilang diculik menjadi tumbal pergerakan reformasi. Adakah campur tangan jaringan intelejen internasional semisal CIA dan Mossad dalam pelengseran Suharto, laiknya Sukarno juga jatuh menjadi korban perang dingin atas prakarsa CIA memukul mundur gerakan komunisme di Indonesia? Waktu itu Jakarta dikepung banyak mahasiswa, di Jakarta terjadi kerusuhan besar semua orang teriak “Reformasi”. Reformasi sudah berlalu, dimanakah anak-anak revolusi? Dimanakah anak gembala? Dimanakah bocah angon? Kasus-kasus korupsi besar tetap saja masih bermunculan, oleh karena itu tadinya saya mau meminta tolong Logan untuk membabat semua pengaco di Republik ini, sayang Logan telah mati, tetapi meskipun demikian “Siliwingi Never Die”.

“Sakabeh turunan dia ku ngaing bakal dilanglang. Tapi ngan di waktu anu perelu. Ngaing bakal datang deui, nulungan nu barutuh, mantuan anu sarusah, ngan nu hade laku lampahna. Mun ngaing datang moal kadeuleu, mun ngaing nyarita moal kadenge. Memang ngaing bakal datang, tapi ngan ka nu rancage hatena, ka nu weruh di semu anu saestu, anu ngarti kanu wangi anu sajati jeung nu surti lantip pikirna, nu hade laku lampahna. Mun ngaing datang, teu ngarupa teu nyawara, tapi mere cere ku wawangi. Ti mimiti poe ieu, Pajajaran leungit nagarana. Pajajaran moal ninggalkeun tapak, jaba ti ngaran pikeun nu mapay. Sabab bukti anu kari, bakal rea nu malungkir! Tapi engke jaga bakal aya nu nyoba-nyoba, supaya anu laleungit kapanggih deui. Nya bisa, ngan mapayna kudu make amparan. Tapi anu marapayna loba nu arieu-aing pang pinterna. Mudu aredan heula.”

Dalam Uga Wangsit Siliwangi bocah angon disebut sebagai budak angon, anak gembala yang tidak menggembalakan kerbau, domba, ataupun harimau. Yang dilakukan bocah angon adalah mengumpulkan daun dan ranting, seseorang yang mengumpulkan sejarah masa lalu. Bocah angon adalah seseorang yang mampu menganalisa kejadian-kejadian di masa lalu untuk tidak lagi mengulang sesuatu yang buruk, dirinya tidak menoleh ke belakang ketika telah menemukan apa yang sebenarnya dia cari. Karena kemampuan analisa yang dia miliki, dirinya mampu meramalkan kejadian yang akan datang, persis yang dituturkan oleh Uga Wangsit Siliwangi dan telah banyak menjadi kenyataan. Pertanyaan saya adalah apakah ramalan itu sebagai spirit untuk mewujudkan sesuatu yang diramalkan, hingga ramalan itu benar terwujud, memaksimalkan ikhtiar kalo menurut akhi? Bocah angon seperti halnya Boruto dalam darahnya mengalir dua klan, seorang anak yang membenci ayahnya yang super sibuk mengurus desa, Boruto memiliki mata byakugan, mata putih “all seeing white eye”. Mata byakugan mampu melihat 360 drajat, mampu menembus benda penghalang yang paling padat, mata yang tajam mampu melihat kekuatan lawan, istilah jawa mungkin bisa disebut “weruh sak durunge winarah”, mengetahui sesuatu yang belum terjadi. Konon bocah angon adalah sesorang yang dalam darahnya mengalir darah Sunda dan Jawa mengerucut pada dua kerajaan besar Pajajaran dan Majapahit, tugasnya adalah menyatukan dua kerajaan tersebut dalam satu spirit mewujudkan Nusantara yang adil di bawah pimpinan Satria Piningit, ingat Satria Piningit lohya bukan Satria Baja Hitam, apalagi Satria Bergitar.

“Mudu aredan heula.”

Setelah reformasi banyak orang ngomong sendiri sambil berjalan, ya setelah reformasi telepon seluler atau hand phone mulai membanjiri pasar Indonesia. Nokia, Ericsson, dan Siemens tiga merk hand phone yang terkenal saat itu. Perkembangan hand phone sangat pesat, dengan munculnya kamera hand phone orang-orang mulai memfoto dirinya mulai dari yang berpakaian sampai yang bugil. Perkawinan hand phone dengan internet akhirnya menghasilkan telepon pintar. Yang tadinya ngomong sendiri kemudian berubah menari-nari sendiri di depan kamera hand phone, ada juga yang pamer kemolekan tubuh. Mulai dari jualan terasi hingga jual diri bisa melalui hand phone. Banyak hal-hal yang dulu sebelum reformasi adalah sesuatu yang tabu dan tidak wajar, kini menjadi wajar. Kita bisa menengoknya di Youtube, Facebook, Instagram, Twitter, hingga Bigo Live dan masih banyak lagi piranti lunak untuk mengakses segala bentuk kegilaan. Apakah ini salah wahyudi, remason, dan para aktivis illuminati?

“Dodotiro, dodotiro kumitir bedah ing pinggir”

Para ahli strategi militer selalu mengatakan proxy war, Presiden Sukarno pun sudah mengatakan bahwa kelak yang dilawan adalah penjajah dari bangsamu sendiri. Pakaian kebhinekaan kita terkoyak, tercabik-cabik dari pinggir. Begitu juga dengan agomo ageming aji, dimana agama merupakan pakaian yang amat berharga terkoyak, agama satu dengan agama yang lain dibenturkan, saling hujat, prilaku kehidupan makin gila, narkoba, sex bebas, perdagangan manusia, tipu muslihat, fitnah, saling membuka aib, saling menguasai harta, iri, dengki, kejahatan meningkat, pembunuhan.

“Cah angon, cah angon. Penekno blimbing kuwi. Lunyu-lunyu penekno. Kanggo mbasuh dodotiro.”

Bocah angon, anak gembala bukanlah seseorang yang hidupnya baik, pakaiannya kotor makanya disuruh mengambil belimbing lambang dari angka lima, seorang nasionalis bisa mengartikan lima sebagai nilai-nilai Pancasila, lima juga bisa berarti sholat lima waktu bagi muslim, atau juga bisa diterjemahkan menjadi rukun Islam yang lima. Meskipun penuh tantangan, yang lima harus tetap diraih dipertahankan untuk membasuh segala yang kotor. Kalau menilik syair ini pastilah bocah angon bukanlah seorang yang anti tembakau dan seseorang yang rajin nyinyir sama perokok, bisa jadi dirinya adalah seseorang yang hidupnya justru dipenuhi segala pergolakan pencarian hidup tiap harinya bermain burung merpati seperti Ki Dalang Jarwo, terkadang dirinya juga pergi ke rumah sakit jiwa untuk memeriksakan diri sembari nyari perhatian sama mbak-mbak koas yang gemesin. Akhir pekan bisa jadi dia sibuk bersama mbak-mbak pemandu lagu disebuah tempat karoke, menyanyikan lagu dangdut meskipun tampangnya punk abis. Bocah angon juga bisa jadi seseorang yang rajin pergi ke kuburan keramat, sibuk merumus nomer togel. Meskipun sejatinya dirinya hanya tertarik pada silsilah para pendahulu.

Lah ini tulisan dimana horornya, dari tadi cuma mencari bocah angon si anak gembala. Zaman sudah berubah kuburan sudah tidak lagi horor, kuburan sekarang sudah banyak yang dijadikan pemukiman, dijadikan tempat pacaran, sesekali juga buat tempat pertunjukan musik dangdut. Semenakutkannya hantu ia tidak akan menggusur pemukimanmu, justru mereka rela berbagi tempat dengan kaum urban yang tinggal di pekuburan perkotaan.

Saya jadi ingat ketika berada di sebuah pekuburan desa, saat seseorang mencari tahu tentang keberadaan bocah angon, anak-anak sekarang lebih suka menyebutnya sebagai uka-uka meniru acara di televisi tentang uji nyali di tempat-tempat angker.

“Siapa namamu?”

“Nama saya tidak boleh disebutkan”

“Berapa usiamu”

“Usia saya sudah ribuan tahun”

“Kenapa kamu tinggal di tempat ini?”

“Ah kamu mau tau aja apa mau tau banget”

“Mau tau banget dong”

“Idiiiiih kamu manusia kok kepo banget sih sama setan”

“Ya sudah kalau begitu, pergi sanah setan”

“Idiiih ini manusia sensi banget deh, baiklah ane pergi dulu, salam ya buat Pak Ahok, yang tegar. Saya tak ke Alexis dulu nemuin dedek-dedek gemes”.

Lalu dimanakah bocah angon berada, bocah angon masih tidur, karena yang ditanam belum bersemi apalagi menghijau, bocah angon belum bergairah laiknya pengantin baru. Untuk lebih tepatnya mari kita tanya kepada Kim Jong Un, Donald Trump, Vladimir Vladimirovich Putin, Xi Jinping, Raja Salman, Buni Yani sama Habib Rizieq, ataupun siapa saja yang bisa menunjukan dimana bocah angon berada. Yang tahu jawabannya nanti dikasih sepeda!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *