Demam Berhutang, Langkah Awal Menuju Perjalanan Spiritual

Jauh sebelum tempat prostitusi terbesar di Asia Tenggara Dolly berdiri di Jawa bagian timur, sampai kini tempat itu sudah digusur oleh kebijakan Walikota Surabaya ke-23 Dr. Ir. Tri Rismaharini, M.T, kegiatan masyarakat yang dinamai (Ng)utang telah mendarah daging di tengah masyarakat. Kegiatan satu ini tak lekang oleh zaman dan tetap kokoh meski digerus cinta.

“Anu aku butuh sesuatu, kamu bisa bantu nggak?” atau “Ya udah minjem di si anu ajah bayarnya harian kok..”

Dari kegiatan ini, banyak penamaan untuk pemberi hutang (pelaku bisnis yang memberikan pinjaman) biasa dikenal dengan sebutan Rentenir, Lintah darat, Tukang Gebluk, Bank Tonggol, Bank Titil,  Mendreng, dan masih banyak nama yang tidak saya tahu. Kalau masnyah, mbaknyah, bapaknyah, ibunyah, dedeknyah, kakaknyah tahu, silahkan tambahkan di kolom komentar. Jangan lupa tahu bulat digoreng dadakan limaratusan guriiih nyoooy…

Nama-nama tersebut lahir di tengah dunia pinjam meminjam uang di kalangan masyarakat. Biasanya, kategori hutang dari pelaku bisnis yang di atas tidak membutuhkan jaminan Surat Tanah, BPKB (Buku Pemilik Kendaraan Bermotor) atau benda berharga lainnya. Kalau punya benda berharga tidak perlu hutang, cus jual saja.

Para nasabah Rentenir/Bank Tonggol tanpa jaminan seperti ini biasanya adalah para pedagang pasar, pedagang warung kelontong. Dimana pemberi kredit sudah tahu betul akan keberadaan nasabah tiap harinya serta penghasilan dari penghutang. Soalnya hutang  dengan metode ini biasanya hari ini hutang besok kena tagih.

Tidak jarang, para pengusaha warung kelontong dan pedagang kios pasar terjerat akan bunga bunga praktik Rentenir seperti ini. Alih-alih usahanya bisa maju dengan tambahan modal dari Rentenir, eh malah usaha gulung tikar karena jerat bunga hutang. Vangkeee… Zahanam! Sungguh terlalu!

Bunga pinjaman yang ditawarkan oleh para penghutang kasta ini cukup mencengangkan, 10% sampai 15% per minggu dari total uang yang dipinjamkan. Ketika empat kali berturut-turut tidak mampu membayar bunga yang sudah disepakati, bunga tersebut akan berubah menjadi hutang pokok di pekan keempat. Walhasil menjadi bunga dari hutang sebelumnya kini berbunga kembali. Jadi ingat bunga buat Ahok yang beranak pinak, pada hari pertama seratus bunga terpajang di halaman Balai Kota DKI Jakarta, pada hari berikutnya seribu bunga, dan terus bertambah. Lalu Fadli Zonk bilang itu pencitraan murahan. Hingga akhirnya, vonis pun berguguran. Dua puluh empat purnama, setidaknya di Cipinang nanti Ahok bisa lebih menggali bakat kesusastraannya. Harapannya saat keluar hotel prodeo Ahok tak kalah puitis dibanding Rangga.

Dari kasus hutang-piutang model Rentenir, banyak sekali yang akhirnya penghutang kabur melarikan diri pindah daerah, karena tidak mampu membayar bunga yang berbunga.  Coba Saudara bayangkan, hutang Rp 2.000.000,0- sudah dibayar Rp. 10.000.000,- tetapi masih tercatat memiliki hutang Rp. 20.000.000,- Apa iya ini harus tetap dibayar? Ketika kabur masih ada tempat, menurut saya kabur adalah langkah terbaik.

Kejadian ini juga pernah menimpa tetangga dekat saya, malah masih ada jalur kerabat secara garis keturunan nenek moyang dari Nabi Adam AS dan Siti Hawa. Sebut saja namanya Mak Nyus. Kebetulan pada waktu itu Mak Nyus mau berangkat menjadi TKW (Tenaga Kerja Wanita) di Arab Saudi, kalau hari ini dikenal dengan sebutan buruh migran. Sebelum berangkat merantau, sebagai seorang ibu yang masih memiliki anak laki-laki yang belum disunat, Mak Nyus berinisiatif mengkhitankan si anak terlebih dahulu.

Singkat cerita, Mak Nyus meminjam uang ke tetangganya yang memiliki profesi Rentenir.  Pada waktu itu, Mak Nyus mengajukan pinjaman sebesar Rp 10.000.000,- guna membuat pesta. Keberanian hutang ini dilandasi dengan dasar keyakinan hakiki bahwa nanti akan mendapatkan penghasilan yang layak di negeri Raja Salman. Ikrar pinjaman pun disetujui, hutang sebesar Rp 10.000.000,- dengan bunga 20% tiap bulannya= Rp. 2.000.000,- per bulan .

Proses keberangkatan Mak Nyus ke negeri Raja Salman ternyata membutuhkan waktu 4 bulan paska pinjam di tempat Rentenir, jadi ada bunga tunggakan sebesar Rp. 8.000.000,- Gaji Mak Nyus di Arab sebesar Rp. 3.600.000,- Untuk keberangkatan ke Arab sendiri dengan metode potong gaji selama sembilan bulan, nah selama proses potong gaji Mak Nyus masih memiliki sisa gaji sebesar Rp. 1.800.000,- yang dimana jumlah tersebut kurang untuk membayar bunga dari Rentenir. Padahal, bunga itu akan berubah menjadi pokok ketika nominal bunga itu sudah sama dengan nominal pinjam. Berapa tahunkah hutang Mak Nyus bisa lunas? Sampai jembutnya berubah putih pun, hutang belum tentu lunas.

Kasus ini bukan rekaan melainkan sungguh-sungguh terjadi di masa itu. Di masa kalangan yang meyakini bumi datar belum menampakan wujudnya. Kalau tidak percaya, sini saya hantarkan ke rumah orangnya. Alamatnya di desa Magangan, persis di belakang pasar tradisional Magangan, kecamatan Ngampel, Indonesia. Dan, untuk Rentenirnya beralamat di depan pasar Magangan. Jadi, peminjam dan pemberi pinjaman ini bertempat tinggal berhadap-hadapan, hanya terhalang pasar. Ironinya, banyak pula hutang di tempat Rentenir untuk mengadu nasib di meja perjudian.

Metode peminjaman uang seperti ini bisa dibilang usaha ilegal dan menyalahi hukum yang tercatat dalam perundang-undangan perbankan. Namun, saya tidak tahu, kenapa kegiatan ini kok masih marak di kalangan masyarakat. Masih ada pemberi hutang dan penghutang. Walaupun, catatan kelam seiring bersama, saling diketahui. Penghutang blangsak, menjadi kere karena jeratan bunga. Ada juga pengusaha pemberi hutang gulung tikar karena nasabah tidak mampu bayar, serta tidak bisa menuntut karena takut dilaporkan ke ranah hukum.  Parahnya lagi, para rentenir terkena kutukan yang serupa dengan filem Rahasia Ilahi. Ingat, berhubung ini ilegal, penegak hukum tidak bisa memproses. Namun, ketika pengusaha penghutangan membawa beking Polisi atau TNI, mereka itu hanya oknum yang membutuhkan uang sampingan untuk yang ‘di samping’.

Hutang Karena Kebutuhan

Sewaktu saya masih kuliah di Jogja dahulu kala, teman baik saya yang bernama Rion berasal dari daerah yang dihuni oleh hewan langka komodo. Ia menjadi pelanggan tetap di salah satu Pegadaian Syariah, entah ini syariah dalam arti yang bagaimana. Pegadaian ini menerima gadai barang-barang elektronik meliputi kamera DSLR, Laptop dan Henpon. Prosedurnya cukup mudah, cuman berbekal KTP/Kartu Mahasiswa/SIM dan barang jaminan. Tidak lupa, ada ikrar hutang yang harus ditandatangani di atas materai.

Pegadaian Syariah yang menjadi langganan Rion ini tak ubahnya lintah darat. Barang jaminan dihargai setengah dari harga jual barang, untuk bunga menggunakan model mingguan sebesar 10% dari total pinjam dengan lama hutang selama satu bulan. Ketika dalam satu bulan barang tidak mampu diambil, yah wassalam… Barang akan menjadi hak milik pegadaian. Hayo…. Apakah sobat termasuk pelanggan tempat seperti ini? Jujur saja.. kata KPK jujur itu hebat, lho!

Sekadar informasi, letak pegadaian berbasis syariah langganan teman dekat saya ini terletak di jalan Tamansiswa. Siapa tahu, di antara pembaca yang budiman ada yang membutuhkan uang pinjaman mudah serta mudah pula untuk kehilangan barang berharga yang dijadikan jaminan. Silakan saja gadaikan barang sobat di Pegadaian Syariah. Mengatasi masalah dengan masalah adalah solusi terindah untuk mempercepat hak kepemilikan kapling tanah ukuran 2x1m (baca: kuburan).

Ingat, orang yang memiliki hutang juga biasanya tak kalah sakti dengan pendekar-pendekar. Kemampuanya dalam menghilang sudah tidak diragukan lagi, entah itu teman, saudara, ataupun orang lain. Kalau sudah waktunya jatuh tempo, kesaktiannya udah gak kalah sama setan. Wusss ilaaang deh! Maka dari itu daripada hubungan pertemanan, persaudaraan retak hanya gara-gara hutang. Alangkah baiknya merenung sebelum berhutang meskipun itu sangat dibutuhkan. Mampu atau tidak kita membayarnya. Kalau sekiranya tidak mampu lebih baik kita jujur, bahwa sebenarnya kita memang lagi membutuhkan bantuan, dan sebaik-baik meminta bantuan adalah yang memberi bantuan pula pada akhirnya. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.

Tabik!
Salam KoPRASi (Korps Pecinta Randa Anak Siji)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *