Belajar “Power” dari AwKarin

Kejadian 411, 212, pilkada di banyak daerah hingga yang paling terkini seperti isu solidaritas pada Ahok adalah gerakan people power. Selain itu kata power ini juga dikatakan sebagai sesuatu yang digunakan secara tidak semestinya (abuse) di banyak isu lain. Orang-orang berlomba-lomba mengutarakan pendapatnya mengenai power yang identik dengan kuasa. Tetapi sebelum ikut hingar bingar ikut menulis di laman media sosial tentang power bisa coba liat power itu sebenarnya apa? Apa benar hanya tentang kekuasaan? Atau kemampuan apa? Lalu apa yang ada di benak kalian kalau penulis mengatakan Awkarin adalah orang yang memiliki power cukup besar? Power oh power, inilah zaman ketika power bank lebih dibutuhkan daripada orang tua sendiri, apalagi jika PLN sudah down metong.

Memang tidak juga salah jika mengatakan power ini adalah kekuasaan, tetapi sebenarnya padanan dalam politiknya sering jadi kurang tepat. Misal kalimatnya people power bagaimana ceritanya berjalan bersama-sama bisa jadi kuasa? Atau misalnya bagaimana power ini bisa dimiliki oleh rakyat biasa. Memang berkuasa atas apa? Untuk tahu sebenarnya power ini apa penulis menggunakan Joseph Nye mengenai konsep power. Bisa dibilang power adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi dan membuat orang lain melakukan apa yang dia inginkan. Bisa berbentuk koersif (hard) jadi seperti ancaman, atau perang, atau kekerasan, atau misalnya hukum. Namun juga bisa secara (soft) atau persuasif, kampanye, kemampuan mengilham, dan bentuk lain yang tidak terlalu kentara. Bentuk power yang hard tadi juga bisa dilihat sebagai kekuasaan. Tetapi bentuk soft yang kedua agak lebih sulit disamakan dengan kekuasaan saja. Yang ingin penulis sampaikan dalam artikel ini sebenarnya dua bentuk power ini bisa digunakan secara bersamaan, atau mendukung satu sama lain.

Merujuk pada power adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain sesuai dengan kepentingan, maka di era sosial media orang yang memiliki banyak pengikut sudah tentu punya power yang lebih. AwKarin dengan beratus ribu bahkan jutaan pengikut di media sosialnya sedikit banyak mempengaruhi bagaimana para pengikut ini bersikap. Pada akhirnya pengumpulan power yang dia miliki bisa dicairkan menjadi banyak hal. Bisa uang, bisa pengaruh, bisa juga sebagai legitimasi pendapat.

“Kalau Awkarin dan followersnya bisa disebut berhasil punya power lebih harusnya semua orang bisa dapat dong? Cuma posting-posting gitu doang bisa dapet followers” apakah benar segampang itu? Atau memang dia hanya beruntung?. Sebenarnya kalau mau dilihat konsistensi dan penjadwalan itu juga bentuk usaha mendapatkan power. Karin punya keterikatan dengan followersnya yang juga secara terus menerus. Jadwalnya ketat, dan konten yang dia terbitkan seakan tanpa ada akhir. Setiap membuka laman sosmednya karin seakan terus menawarkan hal yang baru. Jika kita mau mencoba melihat usaha dibalik pembuatan konten-kontennya itu bukanlah hal yang mudah. Memang bisa didebatkan kalo isi konten yang dijual karin tidak bermutu. Namun itu tergantung perspektif dan selera masing-masing. Yang jelas dia tidak pernah absen menuai followers dan secara sejalan menumpuk powernya.

Melihat usaha Karin tadi sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kampanye politik yang dilakukan partai –partai dan entitas politik lainnya bukan? Menaikan nama dengan berbagai cara agar menjadi diskusi publik. Lalu juga berusaha terus relevan dengan isu terkini agar mendapatkan pendukung. Dan pada akhirnya mencairkan kapital powernya menjadi banyak hal misal kekuasaan politik, dan pengaruh pada rakyat, juga legitimasi pendapat. Menyamakan Karin dengan entitas dan gerakan politik lain memang nampak terlalu menyederhanakan. Tetapi setidaknya dengan pemodelan power yang dihimpun ini kita bisa berdebat dengan lebih mengerti konsep sedikit.

Dan pertanyaannya adalah haruskah Presiden Joko Widodo meminta bantuan Power Ranger, untuk menjaga power politiknya ditengah kekisruhan politik akhir-akhir ini? Salam hahahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *