Ada Apa dengan “Malam Jumat Kliwon”?

 

“Emang nasib tukang jala perut laper duit ga punye, untung aja ada rume numpang minum sekedarnye. Yang punya rumah janda anaknya baru dua. Nah ini baru mujur, tukang jala nih dapat janda. Tebar sana tebar sini tebar jala di tengah rawa ngarepin ikan gerame ngejala dapetin randa.”

Itulah bait-bait nyanyian Bang Bokir dalam Film Malam Jumat Kliwon (1986) yang dibintangi oleh artis legenda horor Indonesia almarhumah Suzzanna.

“Aduh jandanya, anaknya dua lagi, mukanya beres, montok lagi hahahahha…”

“Ha ha haah siapa nih kok lain, (Tiba-tiba gadis yang dirayu Pak Bokir dengan nyanyian berubah menjadi Sundel Bolong) eeee kabur mat kabur… uaaa”

Selesai menyanyi Pak Bokir ketakutan lalu lari terbirit-birit dan akhirnya ketemu Pak Hansip.

“Hei Pak Bokir, Pak Bokir, ada apa lari-lari malam-malam?” tanya Pak Hansip yang diperankan oleh Dorman.

“Ada setan,” jawab Pak Bokir.

“Setan apaan?” tanya Pak Hansip lagi.

“Setan sundel bolong, noh dirumah itu noh!” jawab Pak Bokir.

Hadirnya karakter Pak Bokir dan Hasip dalam film horor Suzzana merupakan bumbu komedi yang sangat jitu memecah ketegangan, satu sisi memperlihatkan ketakutan karena melihat hantu tapi di sisi lain dikemas dalam adegan yang penuh mengundang tawa.

Film Malam Jumat Kliwon dirilis pada tahun 1986, disutradarai oleh Sisworo Gautama Putra, Produser Ram Soraya, Penulis Cerita S. Gatra, Penulis Skenario Naryono Prayitno, Sinematografi Thomas Susanto, Penyunting Muryadi. Adapun pemain film Malam Jumat Kliwon adalah Suzzana, Alan Nauri, Amith Abidin, Rukman Herman, Soendjoto Adibroto, Doddy Kusuma, Yorita Murni, Bokir, Karsiman Gada, Johny Matakena, Sudarmi Suyadi, Evie Susanto, Elly Kristina, Neneng Rosita Irmawati, Ali Akbar dan Dorman Borisman. Film ini berdurasi 88 menit dan didistribusikan oleh Soraya Intercine Films.

Raden Arya Tejo memiliki seorang istri yang sedang hamil tua, dan ternyata dikirimi guna-guna atau santet oleh Selirnya yang bersekongkol dengan centeng dan meminta pertolongan seorang dukun. Istri Raden Arya Tejo akhirnya meninggal saat melahirkan anaknya secara cukup tidak wajar karena sang anak lahir dengan membuat lubang di punggung ibunya. Sang anak diungsikan oleh Raden Arya Tejo ke panti asuhan. Namun sang Selir tidak cukup puas akan kematian istri Raden Arya Tejo, sang Selir berniat untuk menghabisi pula anak Raden Arya Tejo yang masih merah. Sembari menyerahkan upah atas kerja Pak Dukun, sang Selir mengutarakan niatnya kepada Pak Dukun. Pak Dukun menjelaskan jika perempuan yang mati tidak wajar karena anaknya lahir dari punggung maka matinya akan penasaran dan bergentayangan menjadi hantu Sundel Bolong. Sementara jika anaknya yang masih bayi ikut dibunuh maka anak itu akan mati penasaran dan menjadi tuyul. Sang Selir tidak peduli dengan apa yang diutarakan Pak Dukun, iri dengki dan nafsu serakahnya untuk menguasai harta Raden Arya Tejo telah menghilangkan akal sehatnya, bahkan Raden Arya Tejo pun akan dihabisi pada akhirnya. Pak Dukun membisikan sesuatu ke telinga sang Selir sebagai syarat untuk memuluskan kerjanya menghabisi keluarga Raden Arya Tejo. Tanpa disadari oleh sang Selir, Pak Dukun dan dua orang centeng, Raden Arya Tejo yang menguntit ikut mendengarkan dari luar ruangan sembari telah menenteng senjata senapan. Setelah sang Selir dibisiki Pak Dukun, dua orang centeng keluar dari ruangan. Ternyata Pak Dukun meminta layanan seks sebagai upah kerjanya menghabisi keluarga Raden Arya Tejo. Gayung bersambut sang Selir yang binal lagi serakah bersedia melayani nafsu birahi Pak Dukun. Gratifikasi seks model beginian juga ternyata sudah ada dari jaman baheula jebod, dari dulu orang sudah menjadikan seks sebagai alat untuk memperlancar ambisinya untuk meraih harta dan kekuasaan. Jadi para koruptor yang akhir-akhir ini dicokok oleh KPK sejatinya cuma ikut-ikutan atau terinspirasi dari film-film yang ditontonya saat masih kecil atau saat masih muda. Begitu kuatnya pengaruh film, (Ini sih buruk sangkanya penulis saja, toh nyatanya memang seks itu sudah jadi komoditi dari jaman Ken Arok mempersunting Ken Dedes, bahkan jauh sebelum itu, saat istri raja yang tergila-gila dengan ketampanan Nabi Yusuf, Kurawa saja dengan bangganya melucuti pakaian Drupadi dalam serial Mahabarata). Dengan asiknya Pak Dukun melucuti kain yang membalut tubuh sintal sang Selir, nafsu tuanya yang tidak sabaran menyuruh sang Selir agar segera bugil, namun sang Selir dengan nakal mengatakan bahwa tak enak kalau terburu-buru, dinikmati saja. Saat Pak Dukun sudah menindih tubuh sang Selir, dengan penuh amarah dan dendam Raden Arya Teja masuk ke dalam kamar dan dor… dor… senapannya membunuh dua orang yang sedang dimabuk birahi. Pak Dukun dan sang Selir meregang nyawa di atas tempat tidur. Saat membuang jasad Pak Dukun dan sang Selir Raden Arya Tejo dikejutkan oleh Ardan dan Karsiman, dua orang centengnya yang telah bersekongkol dengan sang Selir. Untuk menjaga rahasia bahwa Raden Arya Tejo telah melakukan pembunuhan, Ardan dan Karsiman meminta upah sepertiga dari kekayaan Raden Arya Tejo.

Teror hantu Sundel Bolong tentulah berbeda dengan teror bom panci apalagi dengan berita hoax yang memblow up berita penculikan anak-anak. Banyak orang yang tidak bersalah menjadi korban salah tangkap dikira penculik anak, babak belur akibat main hakim sendiri,  tragisnya ada yang sampai meregang nyawa. Dan yang paling miris korban salah tangkap kebanyakan adalah orang yang mengidap sakit jiwa. Mungkin kisah ini kelak akan menjadi Film dengan judul “Hantu Gila Penculik Anak”, ah Indonesia gemar banget bikin film tentang hantu padahal jauh-jauh hari Tan Malaka dalam Madilog mengajarkan untuk berpikir secara ilmiah, meskipun dalam ajaran jawa yang tertuang dalam serat wulang reh sendiri sudah menegaskan bahwa “ngelmu iku kelakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekese durangkara (ilmu itu bisa dipahami/dikuasai harus dengan cara, cara pencapainnya dengan cara kas, artinya kas berusaha keras memperkokoh karakter, kokohnya budi akan menjauhkan diri dari watak angkara)”. Waktu penulis masih kecil juga isu penculik anak sudah ada, persis saat penulis gemar-gemarnya menonton film “Malam Jumat Kliwon”. Dulu si Penculik diidentikan Pak Tandol (Bapak-bapak penata barang yang bodol) istilah gaul sekarang pemulung. Sosok manusia yang kemana-mana membawa karung mencari barang-barang bekas yang ditukar dengan brondong atau borondong atau Pop Corn yang lazim kita beli di bioskop. Jangan sampai hantu hanya menjadi teror, tetapi hantu juga harus menjadi ilmu, harus bisa dibuktikan begitu juga tuduhan kepada para penculik anak, jangan sampai main hakim sendiri apalagi tanpa adanya bukti.

Sundel Bolong muncul ketika Ardan hendak memperkosa Ayu, hingga akhirnya Ardan meninggal karena tenggelam di sungai. Pertemuan Ardan dan Ayu sebetulnya saat Ayu mencari informasi akan apa yang terjadi di rumah tempat Ayu sedang menulis novel. Ketika menulis Ayu kerap dihantui hal-hal menakutkan. Sebelum Ardan meninggal ia pernah menyebut nama Karsiman. Ayu pun bertanya kepada Karsiman apa sebenarnya yang telah terjadi. Namun sayang Karsiman justru menanggapi dengan kasar. Ayu yang mengendarai sepeda motor dikejar oleh Karsiman dengan mobil dan hampir menabrak Ayu. Tetapi sebelum mobilnya menabrak Ayu, tiba-tiba muncul Sundel Bolong menghadang mobil Karsiman hingga kecelakaan.  Karsiman akhirnya tewas akibat sekop yang dilempar Sundel Bolong ke dadanya.

Sosok Sundel Bolong ternyata adalah ibu dari Ayu yang bernama Minati. Ayu akhirnya bertemu dengan Raden Arya Tejo, setelah sebelumnya bertemu dengan Pak Tomo yang mengira bahwa yang membunuh Ardan dan Karsiman adalah arwah Minati. Pak Tomo sendiri ternyata adalah adik dari Raden Arya Tejo yang setia merawat kakaknya. Pertemuan Raden Aryo Tejo dengan anaknya dari Minati akhirnya membuka kisah kelahiran Ayu dan bagaimana Minati meninggal. Setelah menceritakan kisah yang sudah lama disimpan rapat-rapat tentang apa saja yang menimpa Minati, Raden Arya Tejo meninggal. Akhir cerita Ayu melukis potret dirinya bersama Raden Arya Tejo dan ibunda Minati didampingi suami Ayu yang bernama Anton. Ayu dan Anton merenda kehidupan baru dengan bahagia meninggali rumah Raden Arya Tejo bersama Minati.

Itulah cuplikan Film “Malam Jumat Kliwon” yang dipaparkan secara tidak runut sesuai adegan per adegan dari filmnya. Mengenang kembali film-film lawas untuk turut dalam perayaan Hari Film Nasional, kebetulan jatuh pada tanggal 30 Maret 2017 bertepatan dengan hari Kamis Wage, menghadapi malam Jumat Kliwon. Menurut analisa neptu hari sebagaimana dikutip dari kitab Primbon, Kamis wage berjumlah 12, orang yang lahir pada Kamis Wage biasanya memiliki cita-cita setinggi langit. Tentu saja, terkadang harapan mereka terlalu tinggi, tetapi mereka juga berpegang pada aturan dan dapat cukup hati-hati dalam mewujudkan tujuan mereka sehingga seringkali tercapai. Mereka juga bisa saja pandai, namun biasanya tidak menghargai saran yang tidak mereka inginkan. Meskipun demikian mereka dapat cukup mempesona orang lain dengan sopan-santunnya dan cenderung tampil baik dalam pergaulan. Mereka mungkin tidak suka menunjukan perasaan mereka yang sebenarnya, tetapi mereka mudah dibujuk dengan rayuan, cukup dengan beberapa patah kata manis mereka sudah klepek-klepek kebaperan. Film horor legenda Suzzana “Malam Jumat Kliwon” pas dikenang dengan perayaan Hari Film Nasional. Banyak film Indonesia yang sudah ditonton, namun untuk mengenang dan menuliskannya semua mungkin butuh waktu yang cukup ehm.

Bagi para insan perfilman Indonesia, selamat merayakan hari Film Nasional yang bertemakan “Merayakan Keberagaman Indonesia”. Begitu juga buat penonton atau penikmat film Indonesia yang beraneka ragam suku, bahasa, dan agama, beragam pula genre film yang disukai, entah itu film horor, drama, komedi maupun film laga. Harapannya perfilman Indonesia semakin bergairah, seperti gairah malam Jumat Kliwon. Gairah yang membawa kebaikan tentunya, bukan gairah yang menjadi momok menakutkan akan pengekangan kreatifitas dan hak untuk berkarya tanpa embel-embel pembredelan, larangan-larangan pemutaran film.

Hati-hati jika keluar di malam Jumat Kliwon. Apabila bertemu Kuntilanak, Sundel Bolong, Genderuwo, Nenek Gayung, Tuyul, Siluman Buaya Putih, Teror Banaspati, Suster Ngesot, Pocong, Hantu Jeruk Purut, Si Manis Jembatan Ancol, Wewe Gombel, Palasik, Begu Gajang, jangan lupa tanya ke mereka sudah registrasi E-KTP (Kartu Tanda Perhantuan-Elektronik) apa belum?  Jangan juga berani meledek ke mereka ngomongin masalah “sunah… sunahan… di malam Jumat” hantu jomblo lebih menakutkan dan berbahaya. Bagi yang suka ngopi hati-hati karena hantu juga suka banget ngopi, apalagi kopi tanpa gula, secara mereka bergentayangan di malam hari dan agar tidak ngantuk saat bergentayangan caffein cukup membantu. Bagi anak kos atau orang-orang yang doyan ngopi tapi malas keluar ke caffe, ke warung kopi, ke burjo, ke angkringan, kopi Sak Setan dengan berbagai macam merk bisa menjadi solusi. Bagi yang ingin melindungi diri dari godaan hantu-hantu genit cukup dengan membaca “nga tha ba ga ma nya ya ja dha pa la wa sa ta da ka ra ca na ha” menghafalkannya dan dibaca berulang-ulang. Alasannya sederhana, hantu-hantu genit akan bingung karena yang selama ini mereka hafalkan adalah “ha na ca ra ka da ta sa wa la pa dha ja ya nya ma ga ba tha nga”. Jika kita membacanya dengan terbalik maka hantu-hantu akan lama berfikir dan kesempatan untuk menakuti habis untuk memahami apa yang sedang kita ucapkan, dan saking keselnya paling mereka akan ngomong:
“usa ker, hac iki itsum eudn umle ewalaggnar, opo enolob ainamera kera ngalam, usa”

Setelah itu hantu akan sibuk menghafalkan hanacaraka secara terbalik, susah banget ngapalinnya ternyata, hantu-hantu akan semakin penasaran, semakin penasaran dan akhirnya lupa kalau sebetulnya dia akan mengganggu kita, kita? Kalau terdengar kata “kita”, jadi inget tema Hari Film Nasional tahun 2016, “Film Indonesia adalah kita”. Kita ? Kita ? Kita ah sudahlah kita harus kerja, kerja, kerja karena kapanpun rumah kita, sawah kita, kebun kita, bisa digusur atas nama pembangunan. Dan untuk menutup tulisan ini ijikan saya mengenang kembali WS. Rendra (alfatihah) tokoh seni peran dan sastrawan dalam puisinya “Kecoa Pembangunan”.

Kecoa Pembangunan
Salah dagang banyak hutang
Tata bukunya di tulis di awan
Tata ekonominya ilmu bintang
Kecoa…kecoa…ke…co…a…

Dengan senjata monopoli
Menjadi pencuri
Kecoa…kecoa… ke…co…a…

Dilindungi kekuasaan
Merampok negeri ini
Kecoa…kecoa…ke…co…a…

Ngimpi nglindur disangka
Pertumbuhan
Hutang pribadi dianggap hutang
Bangsa
Suara dibungkam agar dosa berkuasa
Kecoa…kecoa…ke…co…a…

Stabilitas, stabilitas katanya
Gangsir Bank
Gangsir Bank, kenyataannya
Kecoa…kecoa…ke…co…a…

Keamanan, ketenangan katanya
Marsinah terbunuh, petani digusur, kenyataannya
Kecoa Pembangunan
Kecoa Bangsa dan negara
Lebih berbahaya ketimbang pelacuran
Kabut gelap masa depan
Kemarau panjang bagi harapan
Kecoa…kecoa…ke…co…a…

Ngakunya konglomerat
Nyatanya macan kandang
Ngakunya bisa dagang
Nyatanya banyak hutang
Kecoa…kecoa…ke…co…a…

Pasportnya empat
Kata buku dua versi
Katanya pemerataan
Nyatanya monopoli
Kecoa…kecoa…ke…co…a…